Seandainya polling dibuat, mengikuti sebuah organisasi apapun itu, merupakan sebuah keharusan atau justru sebuah kesunahan? Kira-kira kalian sebagai mahasiswa akan memilih yang mana sob? Sebab ketika Saya berbicara organisasi, selalu saja mendapat dua jenis penilaian, pro dan kontra. Sebagian mengkaitkan dengan pengembangan diri, sebagian lagi mengkaitkan dengan kesibukan kuliah. Tidak akan membahas pro dan kontra berorganisasi dalam pandangan mahasiswa. Saya justru tertarik bercerita bagaimana tantangan keterbatasan anggota yang mungkin saja terjadi dalam sebuah organisasi.
Bukan rahasia lagi, jika organisasi selalu identik dengan kerja sama antar anggota. Adanya struktur atau pembagian tugas yang jelas, memudahkan anggota untuk fokus pada kewajiban masing-masing. Sebab dalam struktur tersebut, merupakan suatu bentuk komitmen sejak awal pembentukan organisasi, sehingga setiap pihak anggota yang memegang komitmennya, tentu akan terjalin kerja sama yang baik untuk mencapai tujuan bersama.
Namun pernahkah kalian, melihat atau mengikuti organisasi yang anggotanya hanya terdiri beberapa orang saja? Bagaimana bisa mereka menjalankan tugas dan tanggungjawab masing-masing bila ternyata memiliki lebih dari satu peran di dalamnya? Mungkin saja terkesan sedikit aneh, benar? Saya meyakini bahwa sebenarnya, tidak sedikit organisasi yang mengalami hal demikian di luar sana. Organisasi ini adalah salah satunya. CHEVENT, organisasi dengan pengurus yang hanya terdiri dari 5 orang termasuk Saya di dalamnya. Sedikit berbagi pengalaman melalui postingan ini, cerita bagaimana Saya memiliki peran ganda di dalam organisasi yang tergolong sudah lama berdiri ini. Seandainya kalian penasaran lanjut baca hingga selesai ya sob... π
Sudah sejak SMA, Saya memang sudah sangat mencintai aktivitas yang bersinggungan dengan jalan-jalan. Bukan seperti jalan-jalan pada umumnya, yang notabene orang mengkaitkan dengan aktivitas berkendara sepanjang jalan memakai motor, becak, bis, ataupun pesawat. Entah sifat yang Saya dapatkan dari siapa! (Yang jelas bukan dari tetangga kanan, kiri, depan, ataupun belakang π), Saya teramat suka menyusuri hutan pegunungan di daerahku π (hal tidak istimewa yang mungkin saja orang pikirkan). Tidak istimewa? Ketika SMA, Saya pernah solo hiking ke Gunung Slamet loh sob! Meskipun pada akhirnya di jalur pendakian, Saya sering menjumpai beberapa pendaki lain, tapi entah mengapa, Saya selalu ingin terpisah dengan mereka dan Saya rasa letak perilaku anehnya memang di situ! Padahal... entah hewan liar, kabut, cuaca buruk, tersesat, dan bahaya lainnya yang sewaktu-waktu mengintai, Saya sendiri yang akan panik π. Namun, tentu saja tidak semudah itu aku panik sebab Saya, siswa yang pernah selama setahun terjun ke organisasi pecinta alam di sekolah, cukup mengetahui dasar-dasar bernavigasi dan survival di hutan.
Jadi singkatnya, kesenangan ini ternyata terbawa hingga Saya memulai kuliah sarjana pada September 2016 lalu. Namun sayangnya, niat sekarang tidaklah sebesar dulu sebab Saya yakin sekali, di bangku kuliah akan jarang-jarang ada komunitas serupa. Apalagi jurusan yang Saya minati, cenderung digambarkan sebagai tempatnya anak anak yang tidak santuy oleh sebagian besar orang πΆ, atau mungkin saja lokasi kampus yang akan cukup jauh dari kehidupan hutan di pikiran Saya dulu. Seolah menonton FTV Indo*iar yang selalu membuat Saya heran, justru di setiap jurusan di Fakultas MIPA, terdapat komunitas Pecinta Alam (PA) nya masing-masing sob! Sontak stigma Saya serasa langsung berputar 360 ΒΊ (180 ΒΊ maksudnya sob! π). Itulah sebabnya ketika menjadi mahasiswa baru pada saat itu, orang pertama yang dipastikan mendaftar komunitas PA di kimia adalah Saya!
Beberapa bulan kemudian, sebuah pesan Whatsapp membuat handphone Saya berbunyi kala itu, Saya mendapat pesan dari nomor +6287XXXXXXXX yang diketahui adalah salah satu pengurus PA kimia. Isi pesan yang rupanya adalah pemberitahuan kegiatan temu perdana π. Hingga di suatu ketika kesempatan itu datang... perasaan heran Saya yang kedua sontak kembali. Saya rasa semua orang pun akan merasakan heran yang sama ketika harus mengetahui fakta bahwa hanya ada Saya dan satu mahasiswa perempuan berkerudung saja yang mendaftar! Itu artinya, dari 230 mahasiswa baru kimia saat itu, kurang dari satu persen (< 1%) nya memiliki minat yang sama dengan kami berdua! Bahkan seolah lebih parah, mereka (pengurus) bercerita bahwa di tahun sebelumnya, tidak ada satupun mahasiswa baru yang berminat mendaftarkan diri sob! π§. Tidak sampai heran yang teramat sangat, akhirnya Saya mulai faham bahwa momen serupa memang sudah dari tahun ke tahun terjadi.
Merasakan ketidakyakinan, sebab nantinya beban tugas yang diberikan kepada kami berdua, tidak bisa dijalankan secara maksimal. Singkat cerita, kami berdua mempunyai inisiatif mengajak teman satu rombel kami untuk bergabung. Masih teringat jelas bagaimana teman Saya yang diakui Fera namanya, aktif sekali di grup Whatsapp kelas kami, seolah seorang sales handal yang menawarkan barang dagangannya dari rumah ke rumah. Lalu, dengan cara yang berbeda Saya melakukan hal yang sama kepada teman dekat Saya ketika itu. Usaha yang cukup membuahkan hasil, kami mempunyai dua teman lagi yang sanggup bergabung. Namun sayangnya, mereka berdua ternyata juga perempuan. Sebagai seorang laki-laki sendiri, Saya sedikit banyak canggung pada saat itu. Seolah ingin tetap bersyukur dengan kehadiran mereka, Saya merasa kondisi ini jauh lebih baik daripada hanya kami berdua yang harus memikul tanggungjawab nantinya. Beberapa minggu kemudian, Naufal, teman satu kabupaten Saya, bergabung dengan kami. Ternyata, Naufal adalah mahasiswa terakhir yang mendaftar pada saat itu. Itu artinya, kami hanya akan berlima dan yang jelas, Saya adalah COWOK sendiri! π.
Oh iya! Seperti yang sebelumnya kalian ketahui, komunitas ini bernama resmi Chemistry Adventure Team atau jika disingkat, kami menyebutnya dengan CHEVENT. Organisasi ini mewadahi mahasiswa yang berminat di bidang kepecinta-alaman, berdiri di bawah naungan Himpunan Mahasiswa Kimia (HIMAMIA) sehingga sering kami sebut sebagai Badan Sub Organisasi (BSO). Berdiri pada tahun 2004, saat ini (per tahun 2021) sudah memiliki sekitar 62 anggota dan 4 pengurus aktif. Setiap tahun kami selalu merekrut anggota baru untuk bergabung. Tidak ada batasan dalam organisasi kami, selama kalian adalah anak jurusan kimia yang memiliki minat berkegiatan sebagai pecinta alam dari berbagai latar suku, agama, budaya, gender, orientasi seksual, dan sebagainya, bisa ikut bergabung dan berperan aktif terhadap komunitas ini.
Sepanjang tahun 2017, Saya dan keempat rekan lainnya, terdiri dari Fera, Umu, Fifi, dan Naufal melewati fase yang tidak sedikit, hingga pada momen di penghujung tahun, kami pun dilantik menjadi bagian utuh dari komunitas ini.
Video singkat pelantikan kami bisa kalian lihat di bawah ini
Awal tahun 2018, merupakan masa-masa berakhirnya pengurus angkatan XII, angkatan di mana Mas Ardhi dan ketiga rekannya dinyatakan selesai. Seperti tradisi sebelum-sebelumnya, mereka juga mengadakan Musyawarah Anggota (MUSYANG) dan melibatkan kami berlima dalam kegiatan tersebut. Pada intinya, bentuk kegiatan ini berupa laporan pertanggungjawaban dari pengurus angkatan XII kepada seniornya yakni pengurus angkatan XI sebagai Dewan Kehormatan. Tak hanya itu, dalam kesempatan tersebut, terjadi reorganisasi dengan serah terima tanggungjawab kepengurusan dari mereka ke kami sebagai calon pengurus angkatan XIII. Perlu waktu kurang lebih 6 jam saja, acara tersebut dapat selesai! Dan sesuai yang Saya prediksi sejak awal, Saya yakin Saya lah yang akan mereka pilih sebagai ketua di komunitas ini. Tidak perlu Saya jelaskan mengapa? Kalian pasti mengerti alasanya! πSeolah sudah tahu endingnya, Saya tidak kaget dan tidak akan berpura-pura kaget juga ketika nama Saya mereka sebut. Mungkin hanya senyum manis ku saja, ekspresi yang akan aku berikan! Benar saja, prediksi Saya seakan tidak meleset, tepat dan akurat. Okeπ... Tanggung jawab baru dalam hidup Saya! Ini merupakan kali kedua Saya, tergabung ke dalam organisasi sejak tahun 2017, di saat Saya masih berstatus sebagai Staff Ahli Departemen Sosial BEM FMIPA UNNES 2017, bahkan di tahun berikutnya pun, Saya masih aktif di organisasi yang sama dengan tanggung jawab yang lebih besar tentunya. Sehingga, sudah bisa Saya bayangkan bagaimana sibuknya Saya di tahun 2018 esok π§.
Bak seperti buah mentah yang baru dipetik dari pohonnya, kami berlima tentu saja masih terlihat sangat freshhhh dan yang jelas masih buta akan pengalaman! Seperti seharusnya, kami mulai mengagendakan kumpul dan bersyukurnya, kami hampir setiap hari bertemu! Secara kebetulan, kami berempat, Aku, Fera, Fifi, dan Umu berada di satu kelas yang sama, sedangkan Naufal, dia berbeda prodi dengan kami. Mulailah kami menyusun STO, menata basecamp, dan lain-lain selayaknya pengurus organisasi pada umumnya.
Seolah baru saja mulai berlayar, kami langsung dihadapkan pada kebingungan! Adalah berkaitan dengan STO! Bagaimana tidak? Organisasi dengan hanya lima pengurus, HARUS mengisi delapan posisi struktur kepengurusan yang ditetapkan. Saat itu, kami masih mengikuti format STO yang dipakai oleh pengurus sebelumnya. Struktur tersebut terdiri dari ketua, wakil ketua, sekretaris, bendahara, biro rumah tangga, serta 3 divisi yang terdiri dari divisi sosial masyarakat, divisi mountaineering, dan divisi pengembangan sumber daya manusia. Sehingga, ini benar-benar kali pertama Saya, harus memiliki dua peran sekaligus dalam sebuah organisasi. Tidak hanya Saya, teman-teman Saya juga demikian. Sontak, bisa dibayangkan bagaimana hebatnya pengurus sebelum kami π.
Bagi Saya pribadi... permasalahan rangkap peran atau jabatan dalam sebuah organisasi yang non profit tidak akan membawa dampak langsung terhadap kinerja organisasi apabila dijalankan dengan benar, malah bisa disebut sangat membantu karena kerja organisasi akan terbantu. Lain halnya jika terjadi pada organisasi yang berorientasi pada profit seperti perusahaan. Permasalahan ini justru akan menimbulkan dampak seperti conflict of interest.
Hai sob! cukup dulu ya!
BERSAMBUNG!


Tidak ada komentar:
Posting Komentar