[ARTIKEL]
[02/06/2020] Pramuwisma
atau sering disebut sebagai pekerja rumah tangga[1] adalah orang
yang bekerja pada orang perseorangan dalam rumah tangga untuk melaksanakan
pekerjaan kerumahtanggaan dengan menerima upah dan/ atau imbalan dalam bentuk
lain.[2] Pramuwisma merupakan profesi yang identik diperankan oleh
seorang perempuan pada usia produktif.[3] Seringkali profesi ini
masih dianggap tidak lebih sebagai petugas cleaning
service, memasak, dan baby sitter.
Namun, sebenarnya makna kehadiran mereka tidak sesederhana yang dibayangkan.
Profesi ini ternyata bermakna jauh lebih kompleks karena mereka turut berperan
dalam membangun pendidikan anak-anak.
Kehadiran
wanita karir merupakan fenomena yang umum kita temui di zaman modern saat ini.
Kemunculan fenomena wanita karir pada dasarnya menjadi indikasi peningkatan
kesejahteraan masyarakat, namun tentu saja mempunyai dampak langsung terhadap
pendidikan anak-anak. Sebab, porsi pendidikan anak yang seharusnya diperankan
oleh seorang wanita sebagai ibu kini telah berkurang seiring dengan kesibukan
karir yang mereka kerjakan.
Sebuah
studi yang berfokus pada survei penggunaan media oleh anak menjelaskan
bahwa pada rentang usia 0 sampai 8 tahun, sebanyak 98 % waktu anak dihabiskan
di dalam rumah dengan dua dunia yaitu buku dan televisi atau gadget.[4] Studi lain
disampaikan oleh Osbora, White, dan Bloom yang dalam penelitiannya
mengungkapkan perkembangan intelektual manusia pada usia 4 tahun sudah mencapai
50 %, usia 8 tahun mencapai 80 %, dan pada usia 18 tahun bisa mencapai 100 %.[5]
Oleh sebab itu, usia 0 sampai 18 tahun merupakan rentang usia yang paling menentukan
dalam hidup seseorang. Dari kondisi inilah kemudian para pramuwisma memainkan
perannya, bahkan porsi peran mereka kini menjadi begitu besar. Pramuwisma kini
telah menjadi mitra pendidikan anak-anak. Sebuah studi internasional menunjukan
bahwa keberadaan pramuwisma sangat berpengaruh terhadap pencapaian prestasi
akademik anak. Pramuwisma telah membuat anak menjadi lebih tepat waktu ketika
berangkat sekolah dan meningkatkan nilai akademik mereka di mata pelajaran yang
mereka dapatkan.[6] Selain itu, di beberapa kasus kehadiran sosok
pramuwisma diketahui mampu meningkatkan kemampuan komunikasi dan kedewasaan
anak.[6] Oleh sebab itu sudah saatnya pramuwisma didukung dalam
upaya pengembangan potensi dalam berbagai aspek karena ini menyangkut masa depan
bagi anak-anak kelak.
Belum
lama ini, kisah seorang warga negara Taiwan sempat menjadi bahan perbincangan
sejumlah media massa di Indonesia. Gadis berusia 19 tahun bernama Tzu-Han,
biasa dipanggil Hsu, dijelaskan sedang mencari sosok pengasuh masa kecilnya
bernama Duwi yang merupakan warga negara Indonesia (WNI). Keduanya kini telah
berpisah selama lebih dari 15 tahun. [7]
Bibi
Duwi yang dahulu diketahui mengasuh Hsu semenjak usianya masih satu tahun kini
telah meninggalkan Taiwan karena kontrak kerjanya habis. Kepedulian yang masih
tertanam dalam hati rupanya membuat Hsu ingin kembali berkomunikasi dan bertemu
dengan Duwi. Hsu mengungkapkan betapa banyak kenangan manis yang masih dia
ingat sewaktu dirinya dan saudaranya diasuh oleh Duwi. Kedua orang tuannya yang
dianggap sangat sibuk membuat kehadiran Duwi sangat penting baginya. Sejak saat
itu, setiap kali dirinya membuka mata, orang yang pertama kali dilihat adalah
sosok pengasuhnya. Hsu menceritakan bahwa dirinya selalu digendong ke sebuah
kursi, membiarkan dirinya membuat susu sendiri sebelum Duwi menambahkan air
mendidih, mengepang rambutnya, mengajarkannya untuk berperilaku jujur kepada
ayah dan ibu, membawanya ke taman untuk bermain dan belajar, bahkan mengajari
lagu dan bahasa asal Duwi. Hsu menganggap keberadaan sosok Duwi di sisinya
membuat dia merasa nyaman, bahkan lebih dari nyaman. Kasih sayang yang
senantiasa selalu Duwi berikan rupanya membuat Hsu sangat mencintainya.
Menurut
perspektif M. Quraish Shihab, peran perempuan sebagai pendidik didasarkan atas apa
yang sudah menjadi sifat dalam diri perempuan tersebut. Sifat itu antara lain
sebagai model dan pembentuk karakter anak yang memiliki sifat jujur serta
menanamkan kejujuran, memiliki sifat lemah lembut dan mendidik anak dengan
penuh kasih sayang, memiliki rasa sabar dalam mendidik dan menghadapi kelakukan
anak-anak, adil dalam memberikan kebutuhan terhadap anak-anak, serta memiliki
sifat keibuan yang mampu menghadapi segala kondisi anak. [8]
Perempuan
merupakan model pembentuk karakter anak untuk senantiasa menanamkan nilai-nilai
kejujuran dalam hidupnya melalui kebiasaan yang anak dapatkan. Pembiasaan
terhadap anak akan sangat ampuh bila dilakukan melalui keteladanan. Kebiasaan
seorang perempuan utamanya adalah sosok ibu akan ditiru oleh anak baik di
lingkungan keluarga maupun masyarakat. Jika dari sosok ibu sudah menanamkan
kejujuran sejak dini maka anak akan menanamkan didikan itu kapan dan di manapun
dia berada.
Pada
prinsipnya, memperlakukan anak hendaknya dengan cara yang lemah lembut.
Perempuan dinilai mampu menjelaskan kepada anak dengan keteladanan dan dengan
bahasa yang sesuai. Hal tersebut merupakan cara yang terbaik meskipun
diperlukan kesabaran dan dibutuhkan waktu bukan hanya satu dua kali, namun
berkali-kali. Kita pasti mengetahui jika penyebab tersenyumnya seorang bayi
adalah adanya interaksi antara ibu atau
orang lain yang merawatnya. Senyum itu muncul sebagai sebab dia telah mengenal
serta merasakan cinta dan kasih sayang orang-orang di sekitarnya.
Perempuan
merupakan sosok penyabar dalam menghadapi apapun perilaku anak karena dirinya
adalah model bagi seorang anak. Seorang perempuan dinilai lebih mampu menahan
emosi agar tidak mengeluarkan suara bernada tinggi dan menyebutkan hal-hal yang
dirasa tidak perlu didengar. Bagi seorang anak yang baru belajar diperlukan
pembinaan dari sosok perempuan utamanya adalah seorang ibu. Kesabaran dan
kelemah lembutan lah yang pada akhirnya mampu mengajarkan anak memahami apa
yang sudah diajarkan.
Sosok
perempuan dalam hal ini seorang ibu dinilai mampu bersikap adil kepada
anak-anak, sebab rasa keadilan yang didapatkannya kelak akan mempengaruhi
kebahagiaan anak hingga mereka dewasa. Perempuan dituntut harus menanamkan
kesetaraan antara anak laki-laki dan anak perempuan. Namun, kesetaraan bukan
berarti mutlak tetapi tetap pada keseimbangan. Perempuan akan selalu berusaha
untuk tidak menampakan kasih dan perhatian itu sehingga menimbulkan kecemburuan
antara yang satu dengan yang lainnya.
Sifat
keibuan secara harfiah adalah sifat yang dimiliki oleh setiap perempuan,
karenanya mereka selalu mendambakan seorang anak untuk menyalurkan rasa keibuan
tersebut. Apabila seorang perempuan mengabaikan potensi ini, itu artinya mereka
mengabaikan jati dirinya sebagai seorang wanita. Rasa keibuan yang dimiliki
oleh seorang wanita merupakan sebuah kelebihan yang tidak dimiliki oleh seorang
laki-laki. Sifat keibuan diyakini merupakan bentuk motivasi yang sangat besar.
Dorongan ini bahkan lebih kuat dibandingkan dorongan akibat rasa haus, lapar,
kebutuhan seksual, dan rasa ingin tahu. Oleh sebab itu, kita dapat menyimpulkan
bahwa begitu kuatnya pengaruh keibuan pada diri seorang anak.
Referensi
[1] Arti Kata Pramuwisma. Tersedia di https://kbbi.web.id/pramuwisma.html.
Diakses pada 11 Mei 2020.
[2] Republik Indonesia, Peraturan Menteri
Ketenagakerjaan Nomor 2 Tahun 2015 Pasal 1 Ayat 1 Tentang Perlindungan Pekerja Rumah Tangga.
[3] Sukesi, K. (2009). Bias Gender dalam Pekerjaan
Rumah Tangga Domestik dan Buruh. Jurnal
Analisis Sosial. Vol. 14 (1).
[4] Rideout,
V.M.A. (2017). The Common Sense Cencus:
Media Use By Kids Age Zero to Eight. San Francisco, CA: Common Sense Media.
[5] Golden Age, Waktu Terbaik Membentuk Karakter Si
Buah Hati. Tersedia di https://batampos.co.id/2018/11/10/golden-age-waktu-terbaik-membentuk-karakter-si-buah-hati/. Diakses pada 12
Mei 2020.
[6] Tang, S.H.K., & Yung, L.C.W. (2014). Maids
or Mentors? The Effect of Live-in Foreign Domestic Workers on Children’s
Educational Achievement in Hong Kong. Education
Economics. DOI: 10.1080/09645292.2014.977847.
[7] WN Taiwan Ini Cari Pengasuhnya Semasa Kecil di
Indonesia. Tersedia di https://www.harianhaluan.com/news/detail/94783/wn-taiwan-ini-cari-pengasuhnya-semmasa-kecil-di-indonesia.
Diakses pada 11 Mei 2020.
[8] Rosita, Ita. (2017). Peran Perempuan Sebagai
Pendidik Perspektif M. Quraish Shihab. Penelitian
Skripsi. Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung.