Selasa, 02 Juni 2020

Kisah Pencarian Bibi Duwi Oleh Hsu, Bukti Nyata Peran Perempuan Sebagai Pendidik


                                                    [ARTIKEL]
[02/06/2020] Pramuwisma atau sering disebut sebagai pekerja rumah tangga[1] adalah orang yang bekerja pada orang perseorangan dalam rumah tangga untuk melaksanakan pekerjaan kerumahtanggaan dengan menerima upah dan/ atau imbalan dalam bentuk lain.[2] Pramuwisma merupakan profesi yang identik diperankan oleh seorang perempuan pada usia produktif.[3] Seringkali profesi ini masih dianggap tidak lebih sebagai petugas cleaning service, memasak, dan baby sitter. Namun, sebenarnya makna kehadiran mereka tidak sesederhana yang dibayangkan. Profesi ini ternyata bermakna jauh lebih kompleks karena mereka turut berperan dalam membangun pendidikan anak-anak.
Kehadiran wanita karir merupakan fenomena yang umum kita temui di zaman modern saat ini. Kemunculan fenomena wanita karir pada dasarnya menjadi indikasi peningkatan kesejahteraan masyarakat, namun tentu saja mempunyai dampak langsung terhadap pendidikan anak-anak. Sebab, porsi pendidikan anak yang seharusnya diperankan oleh seorang wanita sebagai ibu kini telah berkurang seiring dengan kesibukan karir yang mereka kerjakan.
Sebuah studi yang berfokus pada survei penggunaan media oleh anak menjelaskan bahwa pada rentang usia 0 sampai 8 tahun, sebanyak 98 % waktu anak dihabiskan di dalam rumah dengan dua dunia yaitu buku dan televisi atau gadget.[4] Studi lain disampaikan oleh Osbora, White, dan Bloom yang dalam penelitiannya mengungkapkan perkembangan intelektual manusia pada usia 4 tahun sudah mencapai 50 %, usia 8 tahun mencapai 80 %, dan pada usia 18 tahun bisa mencapai 100 %.[5] Oleh sebab itu, usia 0 sampai 18 tahun merupakan rentang usia yang paling menentukan dalam hidup seseorang. Dari kondisi inilah kemudian para pramuwisma memainkan perannya, bahkan porsi peran mereka kini menjadi begitu besar. Pramuwisma kini telah menjadi mitra pendidikan anak-anak. Sebuah studi internasional menunjukan bahwa keberadaan pramuwisma sangat berpengaruh terhadap pencapaian prestasi akademik anak. Pramuwisma telah membuat anak menjadi lebih tepat waktu ketika berangkat sekolah dan meningkatkan nilai akademik mereka di mata pelajaran yang mereka dapatkan.[6] Selain itu, di beberapa kasus kehadiran sosok pramuwisma diketahui mampu meningkatkan kemampuan komunikasi dan kedewasaan anak.[6] Oleh sebab itu sudah saatnya pramuwisma didukung dalam upaya pengembangan potensi dalam berbagai aspek karena ini menyangkut masa depan bagi anak-anak kelak.
Belum lama ini, kisah seorang warga negara Taiwan sempat menjadi bahan perbincangan sejumlah media massa di Indonesia. Gadis berusia 19 tahun bernama Tzu-Han, biasa dipanggil Hsu, dijelaskan sedang mencari sosok pengasuh masa kecilnya bernama Duwi yang merupakan warga negara Indonesia (WNI). Keduanya kini telah berpisah selama lebih dari 15 tahun. [7]
Bibi Duwi yang dahulu diketahui mengasuh Hsu semenjak usianya masih satu tahun kini telah meninggalkan Taiwan karena kontrak kerjanya habis. Kepedulian yang masih tertanam dalam hati rupanya membuat Hsu ingin kembali berkomunikasi dan bertemu dengan Duwi. Hsu mengungkapkan betapa banyak kenangan manis yang masih dia ingat sewaktu dirinya dan saudaranya diasuh oleh Duwi. Kedua orang tuannya yang dianggap sangat sibuk membuat kehadiran Duwi sangat penting baginya. Sejak saat itu, setiap kali dirinya membuka mata, orang yang pertama kali dilihat adalah sosok pengasuhnya. Hsu menceritakan bahwa dirinya selalu digendong ke sebuah kursi, membiarkan dirinya membuat susu sendiri sebelum Duwi menambahkan air mendidih, mengepang rambutnya, mengajarkannya untuk berperilaku jujur kepada ayah dan ibu, membawanya ke taman untuk bermain dan belajar, bahkan mengajari lagu dan bahasa asal Duwi. Hsu menganggap keberadaan sosok Duwi di sisinya membuat dia merasa nyaman, bahkan lebih dari nyaman. Kasih sayang yang senantiasa selalu Duwi berikan rupanya membuat Hsu sangat mencintainya.
Menurut perspektif M. Quraish Shihab, peran perempuan sebagai pendidik didasarkan atas apa yang sudah menjadi sifat dalam diri perempuan tersebut. Sifat itu antara lain sebagai model dan pembentuk karakter anak yang memiliki sifat jujur serta menanamkan kejujuran, memiliki sifat lemah lembut dan mendidik anak dengan penuh kasih sayang, memiliki rasa sabar dalam mendidik dan menghadapi kelakukan anak-anak, adil dalam memberikan kebutuhan terhadap anak-anak, serta memiliki sifat keibuan yang mampu menghadapi segala kondisi anak. [8]
Perempuan merupakan model pembentuk karakter anak untuk senantiasa menanamkan nilai-nilai kejujuran dalam hidupnya melalui kebiasaan yang anak dapatkan. Pembiasaan terhadap anak akan sangat ampuh bila dilakukan melalui keteladanan. Kebiasaan seorang perempuan utamanya adalah sosok ibu akan ditiru oleh anak baik di lingkungan keluarga maupun masyarakat. Jika dari sosok ibu sudah menanamkan kejujuran sejak dini maka anak akan menanamkan didikan itu kapan dan di manapun dia berada.
Pada prinsipnya, memperlakukan anak hendaknya dengan cara yang lemah lembut. Perempuan dinilai mampu menjelaskan kepada anak dengan keteladanan dan dengan bahasa yang sesuai. Hal tersebut merupakan cara yang terbaik meskipun diperlukan kesabaran dan dibutuhkan waktu bukan hanya satu dua kali, namun berkali-kali. Kita pasti mengetahui jika penyebab tersenyumnya seorang bayi adalah adanya  interaksi antara ibu atau orang lain yang merawatnya. Senyum itu muncul sebagai sebab dia telah mengenal serta merasakan cinta dan kasih sayang orang-orang di sekitarnya.
Perempuan merupakan sosok penyabar dalam menghadapi apapun perilaku anak karena dirinya adalah model bagi seorang anak. Seorang perempuan dinilai lebih mampu menahan emosi agar tidak mengeluarkan suara bernada tinggi dan menyebutkan hal-hal yang dirasa tidak perlu didengar. Bagi seorang anak yang baru belajar diperlukan pembinaan dari sosok perempuan utamanya adalah seorang ibu. Kesabaran dan kelemah lembutan lah yang pada akhirnya mampu mengajarkan anak memahami apa yang sudah diajarkan.
Sosok perempuan dalam hal ini seorang ibu dinilai mampu bersikap adil kepada anak-anak, sebab rasa keadilan yang didapatkannya kelak akan mempengaruhi kebahagiaan anak hingga mereka dewasa. Perempuan dituntut harus menanamkan kesetaraan antara anak laki-laki dan anak perempuan. Namun, kesetaraan bukan berarti mutlak tetapi tetap pada keseimbangan. Perempuan akan selalu berusaha untuk tidak menampakan kasih dan perhatian itu sehingga menimbulkan kecemburuan antara yang satu dengan yang lainnya.
Sifat keibuan secara harfiah adalah sifat yang dimiliki oleh setiap perempuan, karenanya mereka selalu mendambakan seorang anak untuk menyalurkan rasa keibuan tersebut. Apabila seorang perempuan mengabaikan potensi ini, itu artinya mereka mengabaikan jati dirinya sebagai seorang wanita. Rasa keibuan yang dimiliki oleh seorang wanita merupakan sebuah kelebihan yang tidak dimiliki oleh seorang laki-laki. Sifat keibuan diyakini merupakan bentuk motivasi yang sangat besar. Dorongan ini bahkan lebih kuat dibandingkan dorongan akibat rasa haus, lapar, kebutuhan seksual, dan rasa ingin tahu. Oleh sebab itu, kita dapat menyimpulkan bahwa begitu kuatnya pengaruh keibuan pada diri seorang anak.
Referensi
[1] Arti Kata Pramuwisma. Tersedia di https://kbbi.web.id/pramuwisma.html. Diakses pada 11 Mei 2020.
[2] Republik Indonesia, Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Nomor 2 Tahun 2015 Pasal 1 Ayat 1 Tentang Perlindungan Pekerja Rumah Tangga.
[3] Sukesi, K. (2009). Bias Gender dalam Pekerjaan Rumah Tangga Domestik dan Buruh. Jurnal Analisis Sosial. Vol. 14 (1).
[4]  Rideout, V.M.A. (2017). The Common Sense Cencus: Media Use By Kids Age Zero to Eight. San Francisco, CA: Common Sense Media.
[5] Golden Age, Waktu Terbaik Membentuk Karakter Si Buah Hati. Tersedia di https://batampos.co.id/2018/11/10/golden-age-waktu-terbaik-membentuk-karakter-si-buah-hati/. Diakses pada 12 Mei 2020.
[6] Tang, S.H.K., & Yung, L.C.W. (2014). Maids or Mentors? The Effect of Live-in Foreign Domestic Workers on Children’s Educational Achievement in Hong Kong. Education Economics. DOI: 10.1080/09645292.2014.977847.
[7] WN Taiwan Ini Cari Pengasuhnya Semasa Kecil di Indonesia. Tersedia di https://www.harianhaluan.com/news/detail/94783/wn-taiwan-ini-cari-pengasuhnya-semmasa-kecil-di-indonesia. Diakses pada 11 Mei 2020.
[8] Rosita, Ita. (2017). Peran Perempuan Sebagai Pendidik Perspektif M. Quraish Shihab. Penelitian Skripsi. Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung.