Sabtu, 03 April 2021

Kabar Itu Datang!

 Part II

Kembali ku fokuskan kesibukan penelitian di laboratorium yang memang sudah hampir selesai itu. Hari - hari itu ku lewati seperti sedia kala, namun dengan perasaan yang berbeda. Aku merasa lebih termotivasi dengan perasaan semangat yang lebih besar sebab bisa jadi salah satu mimpiku akan datang dengan segera.

Suatu ketika, dunia maya mulai dihebohkan dengan pemberitaan kasus wabah COVID-19 pertama di Indonesia yang tak lama kemudian, kejadian tersebut membuat semua kampus menutup kegiatan pembelajaran termasuk laboratorium tempat ku bekerja pun melakukan hal yang sama. Namun bersyukurnya, tanggungjawab ku di laboratorium tepat telah usai! Dengan begitu, kini diri ku punya lebih banyak waktu untuk fokus memperbaiki proposal penelitian skripsi yang sudah satu bulan lebih tak ku sentuh itu 😎. Apalagi, kampus sudah memutuskan untuk meliburkan kegiatan pembelajaran yang entah akan sampai kapan 👀. Sebenarnya, di luar rasa syukur ku kala itu, sedikit banyak ku pendam rasa khawatir sebab kondisi pandemi seperti ini tentu saja dapat menghambat progres skripsi dan pada akhirnya kesempatan untuk lulus tepat waktu pun akan semakin kecil. 

Pada pertengahan Maret, kini pemberitaan Covid-19 semakin meluas sebab kenaikan kasus infeksi yang memang semakin massive. Apalagi, kota yang sedang ku huni ini tak luput pula dari kepungan virus yang menyebalkan ini. Yang jelas, keadaan semakin terasa berat pun timbul rasa takut yang selalu menghantui diriku kala itu. Namun, virus yang “katanya” sangat ganas itu, rupanya tidak membuat sebagian orang merasakan ketakutan seperti yang ku rasakan. Benar saja, hari demi hari angka infeksi semakin naik dan naik! Kebijakan demi kebijakan terus dibuat oleh pemerintah, mulai dari melakukan lockdown, karantina mandiri, hingga melarang bepergian ke luar kota. Hanya saja, ada begitu banyak pertimbangan mengapa aku harus meninggalkan kota ini, hingga di akhir bulan, aku memutuskan untuk pulang ke rumah di Purbalingga.

Di tengah hingar bingar pemberitaan Covid-19, di bulan yang sama pun aku harus memakan pil pahit kehidupan. Bagaimana tidak? Semua usaha yang sudah ku perjuangkan demi bisa ke abroad sebelumnya, berakhir dengan datangnya kabar pembatalan. Meskipun diriku sangat memaklumi akan keadaan ini, tetap saja ada rasa kecewa yang bersemayam di hati. Sebenarnya, aku sudah memprediksi akan datangnya pemberitahuan ini sebelumnya, hanya saja aku merasa bahwa event tersebut hanya akan ditunda dan kembali digelar tidak lama setelah pandemi usai. Namun, perasaanku salah dan ternyata even tersebut justru dibatalkan. Ya... di kondisi yang cukup darurat seperti ini tentu saja penyelenggara tidak akan mengambil resiko dengan mendatangkan mahasiswa asing. Jangankan mendatangkan, akses masuk dan keluar negara tersebut pun sudah pasti dihentikan. Terlebih lagi, sebagian besar maskapai penerbangan internasional jelas sudah berhenti beroperasi walaupun sifatnya sementara.

*email pembatalan TIGP

Bersamaan dengan sedikit rasa kecewa yang ku rasakan kala itu, diriku masih menaruh rasa optimis untuk mendapatkan kesempatan terbang ke negeri impian. Aku merasa bahwa pandemi ini tidak akan berlangsung lama dan satu event lagi yang masih ku tunggu tidak akan sampai ditunda apalagi dibatalkan. GIP adalah harapan terakhirku saat itu, diriku sangat berharap lebih hingga setiap hari namanya selalu tidak bisa lepas dari anganku. Maret berlalu dan kini beralih ke April, bulan yang kulalui dengan penuh rasa optimis, di sisi lain juga khawatir akan merasakan kecewa kedua kalinya. Di bulan ini pun, pandemi semakin meluas sehingga rasa kekhawatiran itu justru lebih dominan. Ku mencoba menutup rasa itu dengan berusaha produktif mengerjakan skripsi, skripsi, dan skripsi. Ya... diriku memang belum memperoleh data, namun waktu yang ada tidak akan aku sia – siakan begitu saja. Aku bahkan sudah mulai menyusun pembahasan saat itu, hanya saja bentuknya masih berupa template yang bisa ku edit setelah aku memperoleh data. Aku rasa ide ini cukup kreatif sebab tidak kebanyakan orang melakukannya.

Di suatu hari, siang itu aku seperti biasa sedang bermain handphone, membaca sebuah artikel ilmiah dan secara tiba-tiba, sebuah notifikasi email muncul di layar utama. Nampak jelas pengirim email itu bertuliskan huruf Korea yang sangat ku yakini berasal dari penyelenggara program GIP. Rupanya memang benar dan secara sengaja, aku tidak langsung membuka email itu, hal pertama yang kulakukan adalah menyiapkan mental dan berdoa meminta kelapangan dada akan hasil yang akan kudapatkan nantinya. Tidak berselang lama, aku membuka email itu dengan seperti biasa membaca subject yang ada terlebih dahulu. Sebenarnya, dari subject nya saja sudah bisa aku ketahui hasilnya, di situ secara jelas tertulis "The Cancelation of 2020 Global Internship Program" yang artinya tidak lain menginformasikan kepada ku tentang pembatalan program GIP tahun ini. Seolah masih belum percaya, aku buka dan baca seluruh isi email panjang tersebut dan berharap ada hal lain yang setidaknya membuat rasa kecewaku sedikit terobati. Tidak ada rupanya 🙃 . Ya... Aku percaya, ada maksud lain dari rencana Tuhan itu, rencana yang tentu saja akan beribu kali lebih indah nantinya, aku hanya perlu bersabar menunggu kesempatan itu akan datang!

*email pembatalan GIP

Sekian. Semangat selalu untuk kita semua 🙂. 


Senin, 15 Maret 2021

Gagal Ke Negeri Ginseng?

PART 1

Januari 2020, sore itu sedang rebahan setelah delapan jam ku habiskan di laboratorium, ponsel yang habis dayanya segera ku hubungkan dengan charger. Seperti biasa, YouTube adalah aplikasi favoritku di saat free time seperti ini. Entah berapa data yang kupakai saat itu, selama ada review film terbaru tidak begitu masalah bagiku. 😅 Belum satu tayangan ku selesai tonton, sebuah pesan Whatsapp muncul di bilah notifikasi. Ku buka segera dan kau tahu? Temanku mengirim pesan bahwa dirinya dinyatakan lolos sebuah program ke Korea Selatan lengkap dengan screenshot informasi kelolosannya. Aku tidak tahu menahu apa maksud dirinya memberi kabar tersebut kepadaku, tapi yang ku tahu dia sangat tahu mimpiku yang ingin pergi ke Negeri Ginseng. Mungkin saja, dia ingin pamer dan memanas-manasi diriku 😅. Tapi benar saja, ada sedikit asap yang keluar dari kedua kupingku 😂. Tapi yang ku bilang saat itu, selamat dan jangan lupa sampaikan salamku ke Lisa Blackpink! 😝 Beberapa hari kemudian, diriku masih belum bisa lupa atas keberhasilannya itu. Wah wah wah, dia benar-benar berhasil membuat ku panas 😅! 

Februari 2020, di saat diriku telah menyelesaikan seminar proposal tugas akhir, dirinya terbang ke Korea Selatan. Sontak rasa iri hati ku semakin besar, niat untuk menyusulnya benar-benar berkobar sangat kuat saat itu! 😁 Benar saja, akibat niatan tersebut, diriku sangat aktif dan semakin aktif mencari program yang nantinya bisa membawaku ke negeri impian itu. Padahal, waktu-waktu tersebut diriku sedang disibukkan dengan tanggungjawab di laboratorium dan juga kesempatan yang harus ku gunakan untuk menyelesaikan revisi proposal penelitian. Kesibukan seperti ini tentunya sudah bukan hal asing bagiku, namun untuk hal ini, jujur saja aku seperti tidak bisa mengendalikannya 😅. Tidak berselang lama, sebuah program berhasil membuat ku tertarik. "The Global Intern Program is a Fully Funded International Internship Program. The Internship will be held at the Gwangju Institute of Science and Technology, South Korea" begitulah deksripsi dari program yang aku baca dan tentu saja tujuan program ini akan membawa siapa saja yang lolos terbang ke Korea. 

Sebetulnya bukan hanya GIP, ada satu lagi program yang menurutku sangat bagus pun persyaratannya tidak begitu neko-neko dan yang jelas tipe aku banget haha. Program tersebut adalah Short Term Research Internship Program (STRIP) yang diselenggarakan oleh Academia Sinica. Berbeda dengan GIP yang diadakan di Korea, STRIP justru akan diselenggarakan di Taiwan. Kedua program tersebut pada intinya sama, sama-sama berupa program magang atau internship berbasis penelitian. Namun, durasi kedua program tersebut berbeda, GIP diadakan selama dua bulan sementara STRIP selama 3 bulan. 

Masih di bulan yang sama tepatnya tanggal 5 Februari, aku memutuskan untuk mendaftar kedua program tersebut. Saat itu STRIP adalah program pertama yang aku daftar sebab 10 hari lagi adalah batas terakhir pendaftaran. Sisa waktu yang begitu singkat hingga 6 hari sebelum penutupan pendaftaran, aku sudah mengumpulkan semua dokumen yang diperlukan. 4 hari ku lewati dengan penuh perjuangan mulai dari meminta surat aktif kuliah dan transkrip berbahasa Inggris ke pihak kampus yang untuk memintanya cukup menguras hati dan tenaga haha, meminta surat rekomendasi, membuat Curriculum Vitae, dan lain  lain hingga akhirnya tiba saatlah aku mengisi formulir aplikasi online. Namun TERNYATA... untuk mendaftar program ini, pendaftar diwajibkan memiliki paspor yang masih aktif! Benar-benar persyaratan yang baru aku ketahui saat mengisi formulir. Ah! Aku rasa aku tidak akan bisa mendaftar sehingga terpaksa tidak ku lanjutkan pengisian saat itu.

Keesokan harinya, pikiranku masih dibayang-bayangi kejadian di hari kemarin hingga suatu ketika aku mencoba mencari tahu cara membuat paspor. Di saat aku mengetahui bahwa hanya perlu waktu 4 hari saja untuk bisa mendapatkan paspor, bergegas aku mempersiapkan dokumen persyaratan. Tapi eh tapi... Kartu Keluarga ku berada di rumahku di Purbalingga 😭, padahal saat itu aku memutuskan untuk membuat paspor di Semarang, itu artinya waktu yang tersisa tidak akan cukup! Seolah jalanku selalu dipermudah, akhirnya aku tahu bahwa ternyata di Wonosobo (kurang lebih 50 Km dari rumahku) ada kantor imigrasi yang tentu saja aku bisa membuatnya di sana. Lima hari sebelum batas akhir pendaftaran, aku pulang dan esoknya langsung mendatangi kantor imigrasi yang aku maksud. Singkat cerita, sampailah di ruang interview, usai selesai, aku disodorkan selembar kertas yang berisi tagihan Rp 350.000. Woah? Panik di tempat sebab aku hanya membawa uang tunai Rp 150.000 di kantong dan yang aku tahu bahwa biaya membuat paspor hanya Rp 100.000. Rupanya, kantor imigrasi Wonosobo tidak lagi menerbitkan paspor 24 halaman sehingga hanya paspor 48 halaman yang mereka terbitkan. Tidak ada uang cukup, ATM pun tidak ada, dan yang jelas tidaklah mungkin aku pulang dulu mengambil uang. ðŸĪŠ Sontak aku teringat Pak Satpam yang ku temui tadi pagi. Ya, kurang lebih pukul 05.00 aku sampai di kantor imigrasi dan beruntungnya aku bertemu dengan beliau. Beliau membantuku banyak hal termasuk saat aku sedang bingung karena masalah ini, aku mendatangi beliau dan beliau menolong ku dengan meminjamkan uang Rp 250.000. ðŸĪē Terimakasih banyak, Pak! 

Tiga hari kemudian atau yang jelas satu hari sebelum penutupan pendaftaran, aku kembali mendatangi kantor imigrasi untuk mengambil paspor dan sudah berjanji akan mengembalikan uang hutang kepada Pak Ridwan, satpam yang baik hati itu. Namun sayangnya, paspor ku ternyata belum selesai diterbitkan! Ternyata... pulang ke Semarang dengan tangan hampa! Namun, aku selalu yakin jalan kemudahan akan selalu ada bagi mereka yang mengusahakannya... Benar saja, aku mendapatkan pesan Whatsapp dari kantor imigrasi sore itu. Pesan itu menuliskan nomor atau kode yang jelas, aku tahu bahwa itu adalah nomor paspor ku! Yuhu! Akhirnya... Keesokan harinya, tepat di hari terakhir pendaftaran aku berhasil menyelesaikan formulir aplikasi online dan cukup lega rasanya! 🙏

Beralih ke program GIP, 7 hari sebelum batas terakhir pendaftaran. Ya! 6 Maret adalah deadline untuk mendaftar program ini. Beruntung, di waktu sebelumnya aku sudah menyiapkan beberapa dokumen, tentu saja membuatku sedikit bernafas lega. Namun, belum lengkap rasanya kalau belum ada drama yang menjadi bumbu penyedap rasa. 😅 Benar saja... di saat aku ingin mendaftar tes TOEFL melalui lembaga bahasa Universitas Negeri Semarang, kelas tes ternyata sudah penuh! ðŸĪŠ Dulu yang kupikir akan semudah itu mendapatkan kelas, namun ternyata tidak semudah itu ferguso! Untuk mengikuti program ini, skor TOEFL resmi merupakan sebuah kewajiban. Akan tetapi, apabila pendaftar terkendala akan itu, mereka diperbolehkan menggunakan skor TOEFL prediksi yang dikeluarkan oleh kampus asal mereka. Singkat cerita, esoknya aku mendatangi lembaga bahasa dan memohon dibukakan kembali kuota tes. Keberuntungan memang selalu berpihak! ðŸĪē Mereka ternyata sudah membuka rombel tes baru berkapasitas 40 mahasiswa sedari pagi tadi. "Waw... penuh belum ya?". Sontak ku daftar lewat website, dan kuota hanya tinggal 3 seat saja!!! ðŸĪŊ Panik plus gemetar ketika mendaftar, namun akhirnya saya bisa tergabung ke dalam kelas tes tersebut. 

Empat hari sebelum deadline, aku mengikuti tes dan selesai. Malam harinya aku cek skor di website dan aku pikir cukup lah untuk mendaftar 😁. Yeah... semua dokumen siap! Esoknya aku mengisi formulir aplikasi online dan ketika usai, tidak langsung ku submit, sebab biasanya penyakit kutil (kurang teliti) selalu datang di saat-saat seperti ini. ðŸ‘đ

Kala itu, saking tertariknya terhadap program ini, ku baca berpuluh-puluh kali panduan yang ada, supaya apa? Aku menginginkan tidak ada cacat sedikitpun tentang segala sesuatu yang aku tulis. Hingga karena itulah, aku menjadi tahu, bahwa salah satu poin penilaian penting diterima tidaknya program ini adalah rencana penelitian atau biasa disebut dengan research plan. Dalam panduan, kurang lebih tertulis bahwa bagi peserta yang sangat tertarik meneliti di bidang spesifik atau laboratorium tertentu sangat dianjurkan untuk menghubungi profesor yang bersangkutan dalam rangka membahas rencana penelitian kita dengan mereka sebelum kita me-submit formulir aplikasi online. Mengingat pentingnya hal tersebut, esoknya aku langsung menghubungi salah satu professor di sana membahas perihal minat dan rencana penelitianku nantinya. Namun sebelum itu, aku sempat dibuat bingung sebab ada begitu banyak laboratorium dengan professornya masing-masing di sana. Bagaimana cara ku menemukan professor yang tepat? Saat itu aku melihat profil setiap professor yang ada di sana melalui website mereka, dengan begitu, aku menjadi tahu minat research mereka seperti apa dan proyek apa yang sedang mereka dikerjakan. Tidak hanya itu, melalui website mereka pula, aku dapat dengan mudah menemukan email setiap professor. 

Setelah mendulang segudang informasi melalui website, kini aku memiliki tiga nama professor yang minat penelitiannya sangat cocok dengan minat penelitianku, dalam bahasa alaynya "gue banget gitu loh". Akan tetapi, untuk menghubungi mereka tentunya bukan hal yang main-main, sebab kesalahan sedikit saja bisa membuat mereka malas dan mengabaikan email kita. Selain itu, perlu hal-hal kreatif supaya mereka bisa tertarik dengan kita, khususnya ide penelitian atau kualifikasi yang kita punya. Untuk itu, beberapa publikasi yang mereka punya aku baca, aku dalami satu persatu, setidaknya dapat mengawali pembicaraan ketika aku menulis email kepada mereka. Akan tetapi, diriku tidak berharap banyak, sebab bukan waktu yang ideal saat itu. Bagaimana tidak? Empat hari sebelum deadline sob ðŸĪŠ!!! Belum tentu juga mereka akan membalas emailku dalam waktu dekat, atau bahkan mungkin juga mereka tidak akan pernah membalas emailku! Menyedihkan! 😎

Tepat tiga hari sebelum penutupan pendaftaran, aku tetap mencoba mengirimkan email kepada mereka dan aku yakin tidak akan langsung mereka balas. Jika dibalaspun, suatu kemungkinan yang sangat kecil untuk bisa memperoleh proposal penelitian berkualitas yang mereka inginkan dengan waktu yang tersisa saat itu. Kalian pasti tahu bukan? Bagaimana perjuangan dan usaha supaya proposal penelitian kalian di-approve oleh dosen pembimbing kalian? Akan ada begitu banyak pengorbanan 😑. Saat itu aku hanya bisa berharap ada keajaiban datang. Benar saja, keesokan harinya aku mendapatkan email balasan dari salah satu professor di sana. Prof. Sanghan Lee namanya, beliau merupakan penanggungjawab salah satu laboratorium di School of Material Science and Engineering. Dalam emailnya, beliau mempersilahkan diriku untuk melakukan penelitian di lab beliau jika aku diterima program tersebut tentunya. Hal yang paling membuatku merasa sangat senang adalah ketika beliau mengatakan bahwa diriku boleh me-submit proposal penelitian ku tanpa harus beliau review terlebih dahulu. Prof... kau begitu baik 😭! Sungguh nikmat yang luar biasa! 

Tepat sehari hari sebelum penutupan pendaftaran, ku sempatkan untuk me-review kembali formulir aplikasi online yang sudah aku isi, aku tidak ingin hanya karena hal sepele membuat ku gagal! Akhirnya... DONE, ku SUBMIT aplikasiku di hari yang sama. Selanjutnya tinggal aku menunggu hasilnya dan berharap kabar baik datang pada waktunya.


BERSAMBUNG ke Part 2 ya!


Kamis, 04 Maret 2021

Mau Belajar di Korea? Ini Syarat dan Prosesnya!

Hai sob! Sesuai janji di postingan beberapa waktu yang lalu saat aku menulis contoh study plan untuk mendaftar dua beasiswa belajar di Korea Selatan (Klik link ini : https://asfrgoestosuccess.blogspot.com/2021/02/menulis-study-plan-ala-gue.html), kali ini aku akan menjelaskan syarat serta proses apa saja yang harus kalian siapkan dan lakukan untuk bisa mendaftar kedua beasiswa tersebut.

Perlu kalian ketahui, ada beberapa jenis beasiswa belajar ke Korea yang sebenarnya bisa kalian daftar. Salah satu yang paling terkenal adalah Beasiswa Korean Government Scholarship Program (KGSP) yang pada tahun 2020 berganti nama menjadi Global Korea Scholarship (GKS). Tentu, beberapa beasiswa tersebut menawarkan jenjang kuliah, syarat, dan proses yang berbeda-beda sob! Ada yang hanya untuk jenjang sarjana (S1), master (S2), doktor (S3) saja, ada yang menawarkan jenjang master sekaligus doktor, bahkan ada juga yang menawarkan program mulai dari sarjana hingga doktor.

Tidak akan semua aku jelaskan, jenis beasiswa yang akan aku bahas di postingan ini adalah beasiswa yang pernah aku daftar di tahun 2020. Beasiswa tersebut adalah beasiswa kampus dari salah satu universitas terbaik di Korea Selatan yaitu Gwangju Institute of Science and Technology atau sering disebut dengan GIST. 

Setiap tahun, GIST selalu memberikan peluang kepada mahasiswa internasional termasuk mahasiswa Indonesia untuk belajar di Korea Selatan melalui program bernama Global Internship Program (GIP) dan Master and Doctoral Scholarship Program. Kedua jenis program beasiswa tersebut adalah beasiswa penuh yang mempunyai tujuan dan waktu pendaftaran yang berbeda-beda. GIP adalah program beasiswa magang singkat berbasis penelitian yang bertujuan untuk memfasilitasi mahasiswa internasional aabila ingin berlatih riset di salah satu laboratorium GIST dan biasanya dibuka pendaftarannya pada bulan Februari hingga Maret setiap tahunnya, sedangkan Master and Doctoral Scholarship Program merupakan program beasiswa yang menawarkan pendidikan S2 dan S3 bagi mahasiswa internasional yang biasanya dibuka pendaftarannya pada bulan September hingga Oktober (untuk Spring Semester) serta bulan Maret hingga April (untuk Fall Semester) setiap tahunnya. Untuk melihat update terbaru mengenai kedua beasiswa ini silahkan bisa mengunjungi situs resmi GIST di (www.gist.ac.kr)

Global Internship Program (GIP)

Mahasiswa internasional yang dinyatakan lolos nantinya dapat bergabung ke dalam sebuah laboratorium untuk mendapatkan pelatihan dan mentoring penelitian selama 8 minggu dari salah satu professor yang ada di GIST. Kesempatan tersebut tentunya dapat menjadi eluang bagi kalian untuk bisa menjadi mahasiswa GIST setelah berhasil menyelesaikan program ini. 

Siswa program sarjana dan master dengan berbagai disiplin ilmu seperti Teknik Elektro, Ilmu Komputer, Ilmu dan Teknik Material, Teknik Mesin, Ilmu dan Teknik Lingkungan, Kimia, Fisika, Ilmu dan Teknik Biomedik, Life Science, dan Institute of Integrated Technology bisa mendaftar program ini. 

Benefit yang akan kalian dapat sebagai penerima beasiswa:

1. Menjadi mahasiswa magang dan dapat melakukan penelitian di salah satu laboratorium yang ada di GIST

2. Mendapatkan pengalaman presentasi selama poster session

3. Memperluas perspektif kalian dengan memilih dosen dan kelas tertentu

4. Dapat belajar Bahasa Korea dan budayanya pada sesi tertentu

5. GIST akan membiayai setengah harga tiket pesawat kalian ke Korea

6. GIST akan memberikan kalian uang bulanan selama periode beasiswa

7. GIST menawarkan asrama bagi kalian

8. Dapat teman baru dari berbagai belahan dunia

Persyaratan untuk mendaftar beasiswa:

1. Merupakan mahasiswa internasional (selain yang berkewarganegaraan Korea) dari berbagai belahan dunia

2. Mahasiswa S1 senior (tahun ketiga atau keempat) dan mahasiswa S2

3. IPK minimal 3.00 skala 4.00

4. Ketika mendaftar pastikan memilih dua laboratorium dan unggah rencana penelitian (research plan) kalian

5. Tuliskan alamat jalan, nomor HP, dan nama ada form alikasi online yang benar sesuai  paspor kalian

Laboratorium yang bisa kalian pilih:

1. School of Electrical Engineering and Computer Science

2. School of Material Science and Engineering

3. School of Mechanical Engineering

4. School of Enviromental Science and Engineering

5. School of Life Science

6. School of Physics and Chemistry

7. Department of Biomedical Science and Engineering

8. Institute of Integrated Technology

Proses-proses yang harus kalian lalui untuk mendaftar:

1. Buatlah akun dengan email aktif kalian melalui laman ..... 

2. Lengkapi formulir aplikasi online dan unggah semua dokumen yang diminta seperti:

a. Scan ijazah asli dalam Bahasa Inggris/Korea atau dapat diganti dengan Surat Keterangan Rencana Kelulusan (Contoh bisa dilihat melalui https://drive.google.com/file/d/1cIilifS80xmY5Gnt5h948HMOeRNxgQ-4/view?usp=sharing)

b. Transkrip dalam Bahasa Inggris/Korea (Contoh bisa dilihat melalui https://drive.google.com/file/d/1x_9We8U6I_UVuSGZz4YEyZ_KsVkPJOiw/view?usp=sharing)

c. Dua buah Surat Rekomendasi (Contoh bisa dilihat melalui https://drive.google.com/file/d/1z_aCRIJZ6NuAapDjtx3YgDmSRFg45Jiy/view?usp=sharing)

d. Sertifikat Kemampuan Bahasa Inggris yang resmi

3. Pastikan kalian menekan "Submit" setelah mengisi formulir aplikasi online. Setelah menekannya, kalian tidak bisa mengubahnya.

Master and Doctoral Scholarship Program

Sesuai yang sudah dijelaskan sebelumnya, beasiswa ini menawarkan program master, doktor, serta gabungan master dan doktor. Semua jenis pengeluaran (expenses) akan ditanggung oleh pihak universitas sehingga beasiswa ini bersifat pembiayaan penuh (fully funded). Durasi normal untuk program master adalah 2 tahun sedangkan untuk doktor selama 4 tahun. 

Benefit yang akan kalian dapatkan sebagai penerima beasiswa:

Uang semester kalian sebesar 4.415.000 won per semester akan ditanggung universitas

Kalian akan mendapatkan uang bulanan dengan rincian:

Tunjangan mahasiswa (students allowance) sebesar 140.000 won per bulan untuk mahasiswa master dan 295.000 won per bulan untuk mahasiswa doktor

Tunjangan makan (meal allowance) sebesar 100.000 won per bulan dengan catatan telah menyelesakan minimal 9 SKS di semester sebelumnya

Tunjangan mahasiswa internasional (international student allowance) sebesar 120.000 won per bulan dengan syarat mendapatkan IPK minimal 3,0 skala 4,5 pada semester sebelumnya

Uang penelitian bagi kalian sebesar 4.820.000 won per tahun untuk mahasiswa master dan 11.480.000 won per tahun untuk mahasiswa doktor dengan catatan kalian mengikuti proyek penelitian tertentu

Biaya asuransi kesehatan yang didukung 60% oleh Lembaga Asuransi Nasional Korea (Korean National Health Insurance) dan mendapatkan layanan cek kesehatan setiap tahun

Biaya tiket pesawat sekali jalan dari negara asal ke Korea yang sifatnya reimbursement

Laboratorium yang bisa kalian pilih:

1. School of Electrical Engineering and Computer Science

2. School of Material Science and Engineering

3. School of Mechanical Engineering

4. School of Enviromental Science and Engineering

5. School of Life Science

6. School of Physics and Chemistry

7. Department of Biomedical Science and Engineering

8. Institute of Integrated Technology

Dokumen yang dibutuhkan untuk melamar beasiswa:

Tidak seperti tahun lalu yang mengharuskan kalian mengirim langsung dokumen ke GIST melalui layanan pos. Untuk tahun 2021 kalian tidak perlu melakukan itu karena situasi pandemi yang belum terkontrol.  Kalian bisa dengan mudah mengkonversi semua dokumen kalian ke dalam satu PDF dan bisa mengirimnya melalui email.

Statement on Application Documents Submission (Formulir 1)

Ijazah S1

Transkrip S1

Ijazah S2

Transkrip S2

Surat Rekomendasi (Formulir 2)

Sertifikat Kecakapan Bahasa Inggris resmi

Fotokopi Passport

Letter of Recommendation for Matriculation Fee Waiver (Formulir 3) yang bersifat opsional

Sertifikat Kecakapan Bahasa Inggris dari universitas asal kalian yang bersifat opsional

Kriteria peserta yang bisa mendaftar:

Peserta dari berbagai belahan dunia dapat mendaftar

Harus memiliki gelar sarjana untuk mendaftar program master

Harus memiliki gelar master untuk mendaftar program doktor

Membaca petunjuk sebelum mendaftar

Proses  proses yang harus kalian lalui untuk mendaftar:

1. Buatlah akun dengan email aktif kalian melalui laman ..... 

2. Lengkapi formulir aplikasi online dan unggah atau kirim semua dokumen yang diminta melalui email.

3. Pastikan kalian menekan "Submit" setelah mengisi formulir aplikasi online. Setelah menekannya, kalian tidak bisa mengubahnya.

Minggu, 28 Februari 2021

Atap Jawa Tengah : Sekedar Nostalgia

Anugerah yang begitu luar biasa bagiku, hidup di atas tanah yang kaya akan filosofi, tanah subur yang dicintai masyarakatnya, bentang alam yang begitu menakjubkan dengan segala macam kehidupan di atasnya. Jawa Tengah, surga pegunungan yang begitu mengikat pecandu ketinggian, magnet bagi para penikmat perjalanan.

18 tahun, usia di saat diriku mulai tahu, mulai mengenal, dan mulai memaknai setiap perjalanan. Usia di saat tak ada keraguan sedikitpun untuk mejelajah, mengamati, dan menikmati tempat baru. Gunung, tanah yang selalu ingin aku pijak dulu. Hal luar biasa sekarang, ketika telah semua gunung di tanah kelahiran ku jelajah.

2015, Purbalingga | Untuk pertama kalinya mendaki dan menginjakan kaki di puncak gunung. Gunung Slamet, gunung yang konon dihuni perempuan bergaun merah, kerap menampakan diri di Samaranthu, mengganggu mereka yang berperilaku tak senonoh di gunung ini. Menjulang setinggi 3.428 mdpl, menyimpan begitu banyak memori indah di tahun itu, menjadi hal yang tidak pernah aku jumpa dan rasakan sebelumnya, berada di atas lautan awan putih membentang, duduk di bibir kawah aktif nan lebar, merenung menyaksikan ajaibnya dunia, terdengar dentuman kecil yang sesekali keluar dari kawah lebarnya kala itu.


2017, Ungaran | Untuk kedua kalinya mendaki dan menginjakan kaki di puncak gunung. Gunung Ungaran, gunung yang konon kerap menampakan sosok macan kumbang kepada para pendaki. Menjulang setinggi 2.050 mdpl di selatan Kota Semarang, menjadi tempat ternyaman saat rasa jenuh melanda, tempat pelarian saat penat merasuk, tempat di mana banyak inspirasi ku dapatkan.

2017, Karanganyar | Untuk ketiga kalinya mendaki dan menginjakan kaki di puncak gunung. Gunung Lawu, gunung yang kerap dikaitkan dengan muksanya Raja Majapahit terakhir, sang Prabu Brawijaya V, konon seringkali terdengar suara-suara keramaian layaknya manusia sedang berperang di sana. Menjulang setinggi 3.265 mdpl di sisi timur Jawa Tengah, menjadi saksi kuatnya sebuah rasa setia kawan, tempat di mana ego pribadi ku tinggal pergi, menjadi tempat energi-energi positif ku bawa pulang.

2017, Wonosobo | Untuk keempat kalinya mendaki dan menginjakan kaki di puncak gunung. Gunung Prau, gunung yang konon pemiliki gerbang menuju dimensi lain, diyakini sebagai sebab hilangnya para pendaki. Menjulang setinggi 2.695 mdpl, puncak yang melatih kami konsistensi, memilih keputusan yang paling berarti, di tengah kebingungan yang mendatangi kami.

2017, Magelang | Untuk kelima kalinya mendaki dan menginjakan kaki di puncak gunung. Gunung Sumbing, gunung yang konon kerap menampakan sosok perempuan tengah merintih menangis kesakitan pada malam hari. Menjulang setinggi 3.371 mdpl, menjadi kenangan, dialah yang paling setia kawan, janji itu kau tulis di kertas putih, seolah akan kekal di Puncak Sejati.

2017, Boyolali | Untuk keenam kalinya mendaki dan menginjakan kaki di puncak gunung. Gunung Merapi, gunung yang terkenal dengan Pasar Bubrahnya, konon kerap terdengar suara riuh layaknya manusia sedang bertransaksi di pasar. Menjulang 2.930 mdpl, puncak yang memang tak akan pernah ingkar janji, tempat di mana siapa pun akan datang kembali, tak terkecuali dengan kami.



2018, Temanggung | Untuk ketujuh kalinya mendaki dan menginjakan kaki di puncak gunung, Gunung Sindoro. Gunung yang konon kerap memunculkan suara-suara gamelan jawa, tempat bagi kerajaan jin berada. Menjulang 3.136 mdpl, puncak yang mengajarkan kami arti berbagi, kebersamaan yang begitu berarti, hingga tak disadari, keindahan yang menyelimuti kami.

2018, Boyolali | Untuk kedelapan kalinya mendaki dan menginjakan kaki di puncak gunung, Gunung Merbabu. Gunung yang konon kerap menampakan sosok bidadari memenuhi taman, taman di mana hamparan Bunga Edelweis tumbuh subur di sini. Menjulang 3.145 mdpl, puncak yang menyaksikansuatu kemenangan, sebab kala badai malam itu menerjang, seolah kami tak ada tandingan.

2018, Kudus | Untuk kesembilan kalinya mendaki dan menginjakan kaki di puncak gunung. Gunung Muria, gunung yang konon. Menjulang setinggi 1.700 mdpl, tempat dimana rasa bahagia dan bangga ku curahkan, bersama dua kawan, merayakan suatu keberhasilan.



Selasa, 23 Februari 2021

ERERE!

12 Juli 2019, teringat jelas bagaimana kami untuk kesekian kalinya bertemu. Aku, Bayu, Andy, Ekka, Fey, Yupi, Riri, Dhika, Anisah, Esty, Iva, dan Diana saling berbaris di lapangan rektorat mendengarkan beberapa orang berbicara di depan sana. Tidak hanya kami, kurang lebih ada ratusan mahasiswa lainnya di lapangan ini, berdiri dengan memakai pakaian yang sama, dengan maksud yang sama pula. Seolah tidak ingin membuat kalian penasaran, tidak juga ingin membuat kalian bertanya-tanya sedang apa kami di sini panas-panasan. PENERJUNAN, satu kata yang mungkin bagi mahasiswa Universitas Negeri Semarang selalu identik dihubungkan dengan kegiatan ke luar kampus. Bukan pertukaran pelajar, bukan kuliah lapangan, bukan juga kerja lapangan, dan kalian pasti sudah bisa menebaknya sekarang! Kami lebih suka melafalkan KAKAEN ketimbang KKN entah mengapa 🙄... yang jelas aku juga 11 temanku yang lain akan hidup dan tinggal di sebuah kabupaten paling barat Jawa Tengah. Seolah seperti burung yang dilepaskan Pak Rektor, kami secara resmi diterjunkan pada hari itu juga! 

14 Juli 2019, kami berdua belas tiba di lokasi. Bak tamu istimewa, kami disambut warga sekitar yang penasaran dengan wajah-wajah imut kami. Bahkan anak-anak di sana pun kalah imut dengan kami! Seolah tidak ingin kami kesusahan membawa perbekalan, sebagian warga turut menyumbng tenaga, mengangkat lalu membawakan perbelakalan kami ke rumah kosong di pojok sana. Rumah yang cukup besar, gedongan, dan dikelilingi sawah. Entah bagaimana suasana di sana pada saat itu, yang jelas terasa panas di badan dan muka kami. Anak kecil yang seolah tidak mau ketinggalan, mereka juga turut ikut membantu kami, meski hanya doa yang bisa mereka beri. Ahh! Melihat antusias mereka, ingin rasanya kami bekerja saat itu juga! Tidak mungkin, kami harus menghormati tubuh kami yang berhak istirahat saat itu. Parereja, desa yang menurutku cukup maju. Ada dua masjid besar berdiri di utara dan selatan, tiga sekolah dasar, sedikit banyak toko yang sedang buka, lalu satu indomart di pinggir jalan utama desa. Sekilas kami hanya sebatas tahu hal itu.

13 Juli 2019, pagi hari kami mendapatkan kertas putih seperti undangan, tertulis jelas KKN UNNES di situ. Rupanya sambutan kedatangan kemarin itu hanya bumbu penyedap saja sebab di undangan tersebut tertulis sebuah agenda, adalah penyambutan mahasiswa KKN di aula desa! Benar-benar hal istimewa bagi kami. Malam hari rupanya, baiklah ada waktu cukup bagiku merangkai kalimat-kalimat indah yang akan aku sampaikan di hadapan mereka dan juga teman-temanku pukul 20.00 nanti. Sebenarnya aku sudah mempersiapkan itu sebelumnya, hanya saja aku harus menyelingi kalimat-kalimat impresi pertama saat kami dua kali tiba di sini. Saat yang ditunggu pun tiba, kami duduk di barisan kedua, yang jelas aku sangat tegang saat itu 😎. Bukan seperti di depan dosen, mahasiswa, bukan juga rekan organisasi yang boleh saja aku berbicara ngalor ngidul, kesempatan ini harus aku jadikan momen istimewa, yang jelas aku wajib terlihat profesional dan berwibawa 😜. Sebenarnya ini bukan kali terakhirnya aku berbicara di kesempatan seperti ini, jadi masih ada tegang-tegang yang lain nantinya ðŸĪŠ.

Aku sendiri adalah anak FMIPA, mereka Fey dan Ekka adalah anak FBS, Yupi dari FIS, Riri dari FT, Andy dan Esti dari FIK, Anisah dan Dhika dari FE, sedangkan Diana dan Iva dari FH. Latar belakang pendidikan kami cukup beragam, itulah sebabnya kami semua merasa tim kami unik. Untuk tanggungjawab sendiri, aku dipercaya mereka menjadi koordinator mahasiswa dengan dibantu oleh Bayu yang sewaktu-waktu dapat mewakili (bahkan mungkin menggantikan diriku) 🙄. Kegiatan kami mencakup 4 bidang: pendidikan, ekonomi, kesehatan, dan lingkungan. Sesuai tujuan utama KKN, program kami rancang untuk membantu memecahkan (bila tak sanggup mungkin "mengurangi" yang jelas bukan semakin "menambah") permasalah-permasalahan yang ada di tengah masyarakat, tentunya akan kami sesuaikan dengan kapasitas dan bidang keilmuan yang kami miliki.

29 Juli 2019, minggu kedua dimana satu persatu program kami mulai berjalan. Sebetulnya, kami sudah cukup disibukkan dengan beberap kegiatan desa pada minggu lalu dan posko kami yang setiap malam mulai ramai kedatangan anak-anak meminta les, tapi karena kali pertama kami melaksanakan program kami sendiri tentu saja energi kami masih sangat tinggi, kekompakan masih serekat lem alteco, dan wajah kami yang jelas masih saja terlihat imut 🙄. Jika ditotal, setidaknya ada 13 program yang akan kami laksanakan di desa ini. Kalian bisa saja membaca buku kami atau dapat pula membuka media sosial dan video YouTube kami jika kalian memerlukan referensi program-program KKN, sebab tidak akan aku ceritakan satu persatu di sini. Akseslah sesuka hati link berikut ini 👇

Buku program kerja:

https://drive.google.com/file/d/1vLbWebyMB8ArkYSakpsFicatPf5I1tBw/view?usp=sharing

Publikasi program kerja ke portal berita:

https://www.kompasiana.com/amp/diah76618/5d6f1af60d823043ca65b282/tingkatkan-mutu-usaha-kesehatan-di-sekolah-uks-mahasiswa-kkn-unnes-adakan-pemilihan-dokter-kecil-di-parereja

https://brebesnews.co/2019/09/mahasiswa-kkn-unes-adakan-pemilihan-dokter-cilik-di-parireja/

Video YouTube program kerja kami 👇


Video YouTube profil Desa Parereja

BERSAMBUNG!





 



Senin, 22 Februari 2021

Proposal PKM Ini Lolos Seleksi Universitas!

Saya sangat yakin, tidak sedikit dari kalian yang pernah mengira bahwa kuliah adalah masa yang jauh lebih santai daripada sekolah, benar? Momen dimana kalian bisa memiliki lebih banyak waktu luang, belajar tanpa ada banyak aturan, kapan dan di manapun bisa nongkrong, dan sejenisnya mungkin... apalagi di keseharian kita, kebebasan berpakaian tidak begitu dipermasalahkan, tentu saja akan menambah kesan santai, benar begitu? Bagi kalian yang sudah masuk dan merasakan dunia perkuliahan, seperti apa jawaban kalian sekarang? Berbanding terbalik, bukan? Namun... tentu saja semua itu, tergantung pada pandangan pribadi masing-masing! Sebagian bisa mengatakan sama saja, sementara sebagian yang lain justru mengatakan sebaliknya. Bagi Saya, masa kuliah adalah masa dimana kita bisa memilih dan menentukan jalur mana yang akan membawa dan menunjuk perjalanan karir kalian nantinya, sedangkan masa-masa kalian di SMA, hanya akan menjadi bumbu-bumbu penyedap saja. Tentu saja, kesan santai bukanlah hal yang tepat menggambarkannya, justru... momen kuliah inilah, sebaiknya memulai mencari dan menentukan identitas terbaik kita.

Seolah tak ingin banyak berbasa-basi, di kesempatan ini Saya ingin sekali berbagi sesuatu ke postingan Saya, sesuatu yang berkaitan dengan hasil karya tulis Saya dan tim, mencoba menjadi mahasiswa tanpa batas, yang kami sadari bahwa dunia perkuliahan tidaklah lebih santai. Sejujurnya, Saya masih sangat miskin akan prestasi akademik di kampus. Itulah sebabnya Saya berniat mengusahakan dan memperjuangkan segala sesuatu, meskipun pada akhirnya kegagalan yang Saya peroleh... itu jauh lebih BAIK, bukan?

Tahun 2018 merupakan kali pertamanya Saya menjajal, menulis, dan mengajukan proposal Program Kreativitas Mahasiswa atau yang biasa mahasiswa sebut dengan PKM. Sebagian mungkin sudah mengenal apa itu PKM. Namun, bagi yang belum, sebenarnya PKM itu apa? Mengapa banyak sekali mahasiswa yang ingin proposalnya diloloskan dan didanai?

PKM merupakan sebuah wadah untuk potensi yang dimiliki mahasiswa Indonesia untuk mengkaji, mengembangkan, serta menerapkan ilmu dan teknologi yang telah mereka pelajari selama kuliah untuk membangun masyarakat melalui berbagai bidang. PKM sendiri dibentuk oleh Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia. Saat ini, PKM memiliki tujuh bidang atau jenis kegiatan yang bisa kalian ikuti setiap tahun dan yang jelas kalian juga akan mendapat dukungan dana penuh dari pemerintah (bagi yang proposalnya diloloskan pada seleksi Belmawa). Bidang-bidang tersebut antara lain PKM-Penelitian, PKM-Penerapan Teknologi, PKM-Kewirausahaan, PKM-Pengabdian Kepada Masyarakat, PKM-Karsa Cipta, PKM-Artikel Ilmiah, dan PKM-Gagasan Tertulis. Adapun manfaat yang bisa mahasiswa peroleh antara lain dapat mengasah kreativitas, kemampuan menulis, menyampaikan, dan menuangkan ide mereka, memperoleh pengalaman dan pengakuan, serta yang terpenting ialah turut serta membantu membangun masyarakat di sekitar kita. Itulah sebabnya kalian patut sekali mencoba!

Proposal yang Saya dan tim buat pada dasarnya muncul atas ide kami mencoba mengubah varian pasta gigi di pasaran menjadi sediaan permen karet sebagai peluang wirausaha baru di masyarakat. Ide kami datang dari hasil mengamati fenomena mobilitas manusia yang semakin tinggi sehingga di era modern seperti sekarang ini semua dituntut untuk cepat dan praktis. Salah satu tuntutan itu bisa berupa kemunculan pertanyaan bagaimana pola menjaga kesehatan gigi yang lebih cepat, efisien, dan praktis. Pada pelaksanaanya, sesuai bidang keilmuan yang kami tekuni, tentu saja kami berupaya menggunakan bahan-bahan alami dalam proses pembuatannya. Salah satu bahan alami yang kami gunakan saat itu adalah Daun Kemangi. Berdasarkan dari banyak penelitian yang sudah dipublikasikan, Daun Kemangi mengandung minyak esensial yang ternyata memiliki efek antimikroba cukup kuat. Bagi kami, manfaat daun inilah yang dinilai memiliki keunikan tersendiri sehingga sangat bersyukurnya kami, ketika proposal yang kami buat dinyatakan lolos pada seleksi internal tingkat universitas.


Bahagia dinyatakan lolos pada saat itu

CiliDent, itulah nama produk kami pada saat itu. Seperti yang sudah Saya jelaskan sebelumnya, produk yang hendak kami buat berupa pasta gigi dengan wujud permen karet. Produk didesain memiliki nilai praktis yang sangat baik sehingga meningkatkan peluang dijadikan sebagai alternatif produk pesaing di kalangan masyarakat luas. Pada seleksi internal tingkat universitas, proposal kami yang telah dinyatakan lolos, siap untuk mengikuti tahap selanjutnya yaitu seleksi tingkat nasional oleh Belmawa. Besar kemungkinan masih banyak hal yang perlu dikaji secara mendalam, pada saat pengumuman seleksi tersebut, proposal kami tidak masuk dalam daftar yang didanai. Keep spirit buat Saya dan tim!!! 


Kemasan CiliDent

Bagi kawan-kawan yang penasaran dan berkeinginan membaca proposal kami. Kalian bisa mengunduhnya melalui link di bawah ini.

https://drive.google.com/file/d/1VEj6MANUNUnm7MkLt9H-vG1iS1jNN_MF/view?usp=sharing

Semoga postingan ini bermanfaat bagi kawan-kawan yang berencana mengikuti PKM, khusunya bidang PKM-Kewirausahaan ya! Perlu kalian ingat, proposal kami menggunakan format dan panduan penulisan tahun 2018, sehingga akan lebih aman jika kawan-kawan cek dan ricek kembali update format serta panduan terbarunya!

Terima kasih karena telah membaca!

Karena Hal ini, Kami Dapatkan Apresiasi!

Momen paling menyebalkan ketika kalian pertama kali memulai bangku kuliah mungkin saja adalah menyia-nyiakan waktu, uang, dan tenaga untuk menyiapkan hal-hal yang dirasa tidak ada manfaatnya sama sekali bukan? Begadang menyiapkan ini dan itu, menghamburkan uang untuk membeli hal yang sebenarnya tidak dibutuhkan, belum lagi kehilangan energi untuk bergerak kesana dan kemari? Hal lain apa yang mungkin kalian rasakan ketika harus berurusan dengan kegiatan OSPEK? Iya begitulah aku akan membahas hal yang berbau OSPEK di sini. Mungkin di telinga sebagian mahasiswa terdengar merdu ya? Tapi bagi sebagian yang lain justru mungkin terkesan sebaliknya.

OSPEK mungkin telah menjadi budaya tahunan di setiap perguruan tinggi. Tapi pada kenyataannya akan berbeda-beda dari teknis pelaksanaanya. Kegiatan itu sendiri pada umumnya terdiri dari tiga tahapan, tahap pertama ketika kalian harus terlibat dalam OSPEK tingkat universitas, tahap kedua terlibat di tingkat fakultas, dan terakhir di tingkat jurusan. Dan jujur saja, kalian paling benci ikut yang di tahap ketiga bukan? Haha. Biar ku tebak! Pasti karena penugasan yang aneh-aneh ya? Haha. Tapi... di sini aku tidak akan membahas hal-hal aneh tentang penugasan ya! Aku justru akan berbagi cerita bagaimana OSPEK bisa membuat aku sebagai salah satu panitia merasa bangga karena berhasil menyelenggarakan acara semacam ini haha.


Hore dapat sertifikat

Terlibat dalam kepanitiaan suatu kegiatan tentu menjadi hal yang menantang bagiku, terlebih apabila kegiatan yang diselenggarakan berskala besar dan melibatkan ribuan peserta. Tanggung jawab yang diberikan tentu akan menjadi hal yang sangat berarti bagi proses pengembangan diri. Sebuah kebanggaan tersendiri bila tanggung jawab tersebut berhasil diemban dengan cukup baik. Melihat dokumentasi berulang kali, mengabadikanya melalui media sosial, bercerita kepada kawan seperjuangan adalah bentuk dari ekspresi rasa bangga bagiku.

Setiap tahun, OSPEK UNNES atau OSMB UNNES yang sudah berevolusi namanya menjadi Program Pengenalan Akademik dan Kemahasiswaan (PPAK) selalu diselenggarakan di kampus kami. Tidak akan membahas tentang PPAK tingkat universitas dan jurusan, kali ini aku yang bercerita seperti apa tugas dan tanggung jawab diriku serta bagaimana panitia akhirnya kami mendapatkan apresiasi dari birokrat kampus.

Tahun 2018 merupakan tahun ketiga aku berurusan dengan PPAK, satu kali sebagai peserta dan dua kali menjadi panitia. Saat menjadi peserta mungkin akan berbeda cerita dengan saat menjadi panitia ya? Haha... ya jelas dong! Tahun sebelumnya aku menjadi salah satu panitia dengan tanggung jawab sebagai pendamping jurusan kimia. Tugasnya mudah, aku hanya perlu membuat yel-yel dan jargon, membuatnya menjadi video yang bisa peserta tonton untuk latihan, mendampingi dan menilai peserta selama kegiatan berlangsung. Namun untuk tahun ini, aku rasa jauh dari kata mudah haha. Ya jelas saja! Hal-hal yang berkaitan dengan seluruh sarana dan prasarana kegiatan harus aku sediakan dan penuhi. Tentunya aku tidaklah sendirian, aku bersama 5 orang teman lainnya yang terdiri dari Fitri, Defin, Ahda, Faiz, dan Dita ditunjuk untuk mengisi divisi perlengkapan dan logistik pada saat itu. Tanggung jawab kami terbagi menjadi tiga fase. Fase pertama meliputi peran dan tugas sebelum kegiatan dimulai, fase kedua ketika kegiatan berlangsung, dan terakhir ketika kegiatan telah selesai. 


Saat menjadi peserta

Tahun pertama menjadi panitia

Pada fase pertama kami disibukkan dengan rapat-rapat besar dan mempersiapkan segala sesuatu yang berkaitan dengan sarana dan prasarana penunjang kegiatan sebelum akhirnya acara dimulai 3 bulan kemudian. Hal yang paling aku ingat selama persiapan adalah ketika kami harus berkeliling Kota Semarang mencari persewaan panggung, tratak, drone, dan sound system yang pas di kantong anggaran. Bayangkan saja dengan segala keterbatasan dana, hampir 75% anggaran divisi kami habis untuk menyewa barang tersebut sedangkan sisanya kami gunakan untuk menganggarkan yang lain. Beruntungnya saat itu, kami memiliki banyak channel peminjaman dimana tidak perlu lagi memakai anggaran yang tersisa meskipun tidak semuanya GRATIS! Aku juga masih sangat ingat ketika kami harus melakukan negosiasi alot dengan birokrat kampus yang melarang penggunaan lahan di depan gedung rektorat untuk keperluan salah satu kegiatan kami nantinya. Sampai akhirnya kamilah yang menjadi panitia PPAK pertama yang bisa menikmati fasilitas lahan tersebut!!! Meminjam dan mengatur puluhan ruangan, lembur menyiapkan panggung, dekorasi, dan segalanya, serta masih banyak lagi hal yang tidak bisa aku ingat dengan jelas. Ahhh! Beginilah divisi kami... ketahanan fisik lebih kami andalkan haha.

Tiga bulan berlalu, kini saat yang dinantikan terjadi! Hari pertama ketika kami harus standby apapun yang terjadi dan kami benar-benar kurang tidur karena semalaman mengontrol alat dan menemani panitia yang lain melakukan geladi kotor. Kami kira selama tiga hari ke depan waktu tidur kami akan terampas dan benar saja itu terjadi! Kami harus menjaga semua peralatan siang dan malam belum lagi harus mengikuti evaluasi dan persiapan untuk hari kedua. “Masih ada hari ketiga loh!” kalimat yang keluar dari mulut ketua kami saat itu, Abror!!!

Tiga hari yang membuat kami menjadi kuat dan segala pelajaran yang bisa diambil kini telah terlewati. Gembira, bangga, dan bersyukur menjadi satu dalam perasaan kami pada saat itu. Begitu juga panitia yang lain aku kira. Meskipun bagi kami masih jelas ada tugas  lain yang selalu setia menanti. Ya! Kami harus mengembalikan semua peralatan yang kami pinjam. Serasa masih ingin melekat di diri kami, masalah demi masalah datang! Kami banyak menerima komplain dari mereka yang kami pinjami, bentuknya macam-macam... ada bagian yang kurang lengkap, ada yang tertukar, ada yang rusak, ada yang hilang haha... Yang jelas sampai saat ini masih ada barang yang belum kami tebus haha... semoga saja yang punya tidak membaca part ini!

Momen kepanitiaan PPAK kali ini memang EPIC dan berbeda! Bagi diriku juga mungkin bagi panitia yang lain. Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya yang terkesan kurang bervariasi atau kata kasarnya cuma itu-itu aja! Jelas ada beberapa alasan kenapa kami bisa mengatakan demikian. Hal pertama yang mungkin terlihat sepele adalah posisi panggung. Ya! Tahun ini kami posisikan panggung berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Jika sebelumnya panggung berada di depan, justru tahun ini panggung berada di tengah! Terdengar aneh mungkin ya bagi kalian? Sebetulnya jika kalian melihat kontur lahan di fakultas kami yang juga tidak memiliki lahan luas, jadi posisi panggung di tengah dinilai lebih baik dan menguntungkan. Daan... hal paling berkesan bagi kami adalah ketika kali pertamanya kami mempersembahkan PAPERMOB sepanjang pelaksanaan PPAK di fakultas kami!!! Menurut kalian apakah itu sebuah prestasi? Bagi kami sebagai panitia ini adalah bentuk prestasi dong! Seakan bukan hanya kami yang merasa bangga, Prof. Zaenuri dan Prof. Sudarmin selaku Dekan dan Wakil Dekan III pun mencurahkan rasa yang sama di dalam sambutannya. 


Foto bersama Pak Rektor, Pak Dekan, dan Pak WD III


PAPPERMOB

Kalian bisa melihat video singkat PAPERMOB kami di bawah ini

Sekian secuil cerita dari aku ya... banyak terima kasih bagi kalian yang sudah bersedia membacanya. Kurang panjang karena aku sedikit banyak part yang lupa, jadi harap maklum!