PART 1
Januari 2020, sore itu sedang rebahan setelah delapan jam ku habiskan di laboratorium, ponsel yang habis dayanya segera ku hubungkan dengan charger. Seperti biasa, YouTube adalah aplikasi favoritku di saat free time seperti ini. Entah berapa data yang kupakai saat itu, selama ada review film terbaru tidak begitu masalah bagiku. ð Belum satu tayangan ku selesai tonton, sebuah pesan Whatsapp muncul di bilah notifikasi. Ku buka segera dan kau tahu? Temanku mengirim pesan bahwa dirinya dinyatakan lolos sebuah program ke Korea Selatan lengkap dengan screenshot informasi kelolosannya. Aku tidak tahu menahu apa maksud dirinya memberi kabar tersebut kepadaku, tapi yang ku tahu dia sangat tahu mimpiku yang ingin pergi ke Negeri Ginseng. Mungkin saja, dia ingin pamer dan memanas-manasi diriku ð . Tapi benar saja, ada sedikit asap yang keluar dari kedua kupingku ð. Tapi yang ku bilang saat itu, selamat dan jangan lupa sampaikan salamku ke Lisa Blackpink! ð Beberapa hari kemudian, diriku masih belum bisa lupa atas keberhasilannya itu. Wah wah wah, dia benar-benar berhasil membuat ku panas ð !
Februari 2020, di saat diriku telah menyelesaikan seminar proposal tugas akhir, dirinya terbang ke Korea Selatan. Sontak rasa iri hati ku semakin besar, niat untuk menyusulnya benar-benar berkobar sangat kuat saat itu! ð Benar saja, akibat niatan tersebut, diriku sangat aktif dan semakin aktif mencari program yang nantinya bisa membawaku ke negeri impian itu. Padahal, waktu-waktu tersebut diriku sedang disibukkan dengan tanggungjawab di laboratorium dan juga kesempatan yang harus ku gunakan untuk menyelesaikan revisi proposal penelitian. Kesibukan seperti ini tentunya sudah bukan hal asing bagiku, namun untuk hal ini, jujur saja aku seperti tidak bisa mengendalikannya ð . Tidak berselang lama, sebuah program berhasil membuat ku tertarik. "The Global Intern Program is a Fully Funded International Internship Program. The Internship will be held at the Gwangju Institute of Science and Technology, South Korea" begitulah deksripsi dari program yang aku baca dan tentu saja tujuan program ini akan membawa siapa saja yang lolos terbang ke Korea.
Sebetulnya bukan hanya GIP, ada satu lagi program yang menurutku sangat bagus pun persyaratannya tidak begitu neko-neko dan yang jelas tipe aku banget haha. Program tersebut adalah Short Term Research Internship Program (STRIP) yang diselenggarakan oleh Academia Sinica. Berbeda dengan GIP yang diadakan di Korea, STRIP justru akan diselenggarakan di Taiwan. Kedua program tersebut pada intinya sama, sama-sama berupa program magang atau internship berbasis penelitian. Namun, durasi kedua program tersebut berbeda, GIP diadakan selama dua bulan sementara STRIP selama 3 bulan.
Masih di bulan yang sama tepatnya tanggal 5 Februari, aku memutuskan untuk mendaftar kedua program tersebut. Saat itu STRIP adalah program pertama yang aku daftar sebab 10 hari lagi adalah batas terakhir pendaftaran. Sisa waktu yang begitu singkat hingga 6 hari sebelum penutupan pendaftaran, aku sudah mengumpulkan semua dokumen yang diperlukan. 4 hari ku lewati dengan penuh perjuangan mulai dari meminta surat aktif kuliah dan transkrip berbahasa Inggris ke pihak kampus yang untuk memintanya cukup menguras hati dan tenaga haha, meminta surat rekomendasi, membuat Curriculum Vitae, dan lain lain hingga akhirnya tiba saatlah aku mengisi formulir aplikasi online. Namun TERNYATA... untuk mendaftar program ini, pendaftar diwajibkan memiliki paspor yang masih aktif! Benar-benar persyaratan yang baru aku ketahui saat mengisi formulir. Ah! Aku rasa aku tidak akan bisa mendaftar sehingga terpaksa tidak ku lanjutkan pengisian saat itu.
Keesokan harinya, pikiranku masih dibayang-bayangi kejadian di hari kemarin hingga suatu ketika aku mencoba mencari tahu cara membuat paspor. Di saat aku mengetahui bahwa hanya perlu waktu 4 hari saja untuk bisa mendapatkan paspor, bergegas aku mempersiapkan dokumen persyaratan. Tapi eh tapi... Kartu Keluarga ku berada di rumahku di Purbalingga ð, padahal saat itu aku memutuskan untuk membuat paspor di Semarang, itu artinya waktu yang tersisa tidak akan cukup! Seolah jalanku selalu dipermudah, akhirnya aku tahu bahwa ternyata di Wonosobo (kurang lebih 50 Km dari rumahku) ada kantor imigrasi yang tentu saja aku bisa membuatnya di sana. Lima hari sebelum batas akhir pendaftaran, aku pulang dan esoknya langsung mendatangi kantor imigrasi yang aku maksud. Singkat cerita, sampailah di ruang interview, usai selesai, aku disodorkan selembar kertas yang berisi tagihan Rp 350.000. Woah? Panik di tempat sebab aku hanya membawa uang tunai Rp 150.000 di kantong dan yang aku tahu bahwa biaya membuat paspor hanya Rp 100.000. Rupanya, kantor imigrasi Wonosobo tidak lagi menerbitkan paspor 24 halaman sehingga hanya paspor 48 halaman yang mereka terbitkan. Tidak ada uang cukup, ATM pun tidak ada, dan yang jelas tidaklah mungkin aku pulang dulu mengambil uang. ðĪŠ Sontak aku teringat Pak Satpam yang ku temui tadi pagi. Ya, kurang lebih pukul 05.00 aku sampai di kantor imigrasi dan beruntungnya aku bertemu dengan beliau. Beliau membantuku banyak hal termasuk saat aku sedang bingung karena masalah ini, aku mendatangi beliau dan beliau menolong ku dengan meminjamkan uang Rp 250.000. ðĪē Terimakasih banyak, Pak!
Tiga hari kemudian atau yang jelas satu hari sebelum penutupan pendaftaran, aku kembali mendatangi kantor imigrasi untuk mengambil paspor dan sudah berjanji akan mengembalikan uang hutang kepada Pak Ridwan, satpam yang baik hati itu. Namun sayangnya, paspor ku ternyata belum selesai diterbitkan! Ternyata... pulang ke Semarang dengan tangan hampa! Namun, aku selalu yakin jalan kemudahan akan selalu ada bagi mereka yang mengusahakannya... Benar saja, aku mendapatkan pesan Whatsapp dari kantor imigrasi sore itu. Pesan itu menuliskan nomor atau kode yang jelas, aku tahu bahwa itu adalah nomor paspor ku! Yuhu! Akhirnya... Keesokan harinya, tepat di hari terakhir pendaftaran aku berhasil menyelesaikan formulir aplikasi online dan cukup lega rasanya! ð
Beralih ke program GIP, 7 hari sebelum batas terakhir pendaftaran. Ya! 6 Maret adalah deadline untuk mendaftar program ini. Beruntung, di waktu sebelumnya aku sudah menyiapkan beberapa dokumen, tentu saja membuatku sedikit bernafas lega. Namun, belum lengkap rasanya kalau belum ada drama yang menjadi bumbu penyedap rasa. ð Benar saja... di saat aku ingin mendaftar tes TOEFL melalui lembaga bahasa Universitas Negeri Semarang, kelas tes ternyata sudah penuh! ðĪŠ Dulu yang kupikir akan semudah itu mendapatkan kelas, namun ternyata tidak semudah itu ferguso! Untuk mengikuti program ini, skor TOEFL resmi merupakan sebuah kewajiban. Akan tetapi, apabila pendaftar terkendala akan itu, mereka diperbolehkan menggunakan skor TOEFL prediksi yang dikeluarkan oleh kampus asal mereka. Singkat cerita, esoknya aku mendatangi lembaga bahasa dan memohon dibukakan kembali kuota tes. Keberuntungan memang selalu berpihak! ðĪē Mereka ternyata sudah membuka rombel tes baru berkapasitas 40 mahasiswa sedari pagi tadi. "Waw... penuh belum ya?". Sontak ku daftar lewat website, dan kuota hanya tinggal 3 seat saja!!! ðĪŊ Panik plus gemetar ketika mendaftar, namun akhirnya saya bisa tergabung ke dalam kelas tes tersebut.
Empat hari sebelum deadline, aku mengikuti tes dan selesai. Malam harinya aku cek skor di website dan aku pikir cukup lah untuk mendaftar ð. Yeah... semua dokumen siap! Esoknya aku mengisi formulir aplikasi online dan ketika usai, tidak langsung ku submit, sebab biasanya penyakit kutil (kurang teliti) selalu datang di saat-saat seperti ini. ðđ
Kala itu, saking tertariknya terhadap program ini, ku baca berpuluh-puluh kali panduan yang ada, supaya apa? Aku menginginkan tidak ada cacat sedikitpun tentang segala sesuatu yang aku tulis. Hingga karena itulah, aku menjadi tahu, bahwa salah satu poin penilaian penting diterima tidaknya program ini adalah rencana penelitian atau biasa disebut dengan research plan. Dalam panduan, kurang lebih tertulis bahwa bagi peserta yang sangat tertarik meneliti di bidang spesifik atau laboratorium tertentu sangat dianjurkan untuk menghubungi profesor yang bersangkutan dalam rangka membahas rencana penelitian kita dengan mereka sebelum kita me-submit formulir aplikasi online. Mengingat pentingnya hal tersebut, esoknya aku langsung menghubungi salah satu professor di sana membahas perihal minat dan rencana penelitianku nantinya. Namun sebelum itu, aku sempat dibuat bingung sebab ada begitu banyak laboratorium dengan professornya masing-masing di sana. Bagaimana cara ku menemukan professor yang tepat? Saat itu aku melihat profil setiap professor yang ada di sana melalui website mereka, dengan begitu, aku menjadi tahu minat research mereka seperti apa dan proyek apa yang sedang mereka dikerjakan. Tidak hanya itu, melalui website mereka pula, aku dapat dengan mudah menemukan email setiap professor.
Setelah mendulang segudang informasi melalui website, kini aku memiliki tiga nama professor yang minat penelitiannya sangat cocok dengan minat penelitianku, dalam bahasa alaynya "gue banget gitu loh". Akan tetapi, untuk menghubungi mereka tentunya bukan hal yang main-main, sebab kesalahan sedikit saja bisa membuat mereka malas dan mengabaikan email kita. Selain itu, perlu hal-hal kreatif supaya mereka bisa tertarik dengan kita, khususnya ide penelitian atau kualifikasi yang kita punya. Untuk itu, beberapa publikasi yang mereka punya aku baca, aku dalami satu persatu, setidaknya dapat mengawali pembicaraan ketika aku menulis email kepada mereka. Akan tetapi, diriku tidak berharap banyak, sebab bukan waktu yang ideal saat itu. Bagaimana tidak? Empat hari sebelum deadline sob ðĪŠ!!! Belum tentu juga mereka akan membalas emailku dalam waktu dekat, atau bahkan mungkin juga mereka tidak akan pernah membalas emailku! Menyedihkan! ðŽ
Tepat tiga hari sebelum penutupan pendaftaran, aku tetap mencoba mengirimkan email kepada mereka dan aku yakin tidak akan langsung mereka balas. Jika dibalaspun, suatu kemungkinan yang sangat kecil untuk bisa memperoleh proposal penelitian berkualitas yang mereka inginkan dengan waktu yang tersisa saat itu. Kalian pasti tahu bukan? Bagaimana perjuangan dan usaha supaya proposal penelitian kalian di-approve oleh dosen pembimbing kalian? Akan ada begitu banyak pengorbanan ð. Saat itu aku hanya bisa berharap ada keajaiban datang. Benar saja, keesokan harinya aku mendapatkan email balasan dari salah satu professor di sana. Prof. Sanghan Lee namanya, beliau merupakan penanggungjawab salah satu laboratorium di School of Material Science and Engineering. Dalam emailnya, beliau mempersilahkan diriku untuk melakukan penelitian di lab beliau jika aku diterima program tersebut tentunya. Hal yang paling membuatku merasa sangat senang adalah ketika beliau mengatakan bahwa diriku boleh me-submit proposal penelitian ku tanpa harus beliau review terlebih dahulu. Prof... kau begitu baik ð! Sungguh nikmat yang luar biasa!
Tepat sehari hari sebelum penutupan pendaftaran, ku sempatkan untuk me-review kembali formulir aplikasi online yang sudah aku isi, aku tidak ingin hanya karena hal sepele membuat ku gagal! Akhirnya... DONE, ku SUBMIT aplikasiku di hari yang sama. Selanjutnya tinggal aku menunggu hasilnya dan berharap kabar baik datang pada waktunya.
BERSAMBUNG ke Part 2 ya!


Tidak ada komentar:
Posting Komentar