Minggu, 28 Februari 2021

Atap Jawa Tengah : Sekedar Nostalgia

Anugerah yang begitu luar biasa bagiku, hidup di atas tanah yang kaya akan filosofi, tanah subur yang dicintai masyarakatnya, bentang alam yang begitu menakjubkan dengan segala macam kehidupan di atasnya. Jawa Tengah, surga pegunungan yang begitu mengikat pecandu ketinggian, magnet bagi para penikmat perjalanan.

18 tahun, usia di saat diriku mulai tahu, mulai mengenal, dan mulai memaknai setiap perjalanan. Usia di saat tak ada keraguan sedikitpun untuk mejelajah, mengamati, dan menikmati tempat baru. Gunung, tanah yang selalu ingin aku pijak dulu. Hal luar biasa sekarang, ketika telah semua gunung di tanah kelahiran ku jelajah.

2015, Purbalingga | Untuk pertama kalinya mendaki dan menginjakan kaki di puncak gunung. Gunung Slamet, gunung yang konon dihuni perempuan bergaun merah, kerap menampakan diri di Samaranthu, mengganggu mereka yang berperilaku tak senonoh di gunung ini. Menjulang setinggi 3.428 mdpl, menyimpan begitu banyak memori indah di tahun itu, menjadi hal yang tidak pernah aku jumpa dan rasakan sebelumnya, berada di atas lautan awan putih membentang, duduk di bibir kawah aktif nan lebar, merenung menyaksikan ajaibnya dunia, terdengar dentuman kecil yang sesekali keluar dari kawah lebarnya kala itu.


2017, Ungaran | Untuk kedua kalinya mendaki dan menginjakan kaki di puncak gunung. Gunung Ungaran, gunung yang konon kerap menampakan sosok macan kumbang kepada para pendaki. Menjulang setinggi 2.050 mdpl di selatan Kota Semarang, menjadi tempat ternyaman saat rasa jenuh melanda, tempat pelarian saat penat merasuk, tempat di mana banyak inspirasi ku dapatkan.

2017, Karanganyar | Untuk ketiga kalinya mendaki dan menginjakan kaki di puncak gunung. Gunung Lawu, gunung yang kerap dikaitkan dengan muksanya Raja Majapahit terakhir, sang Prabu Brawijaya V, konon seringkali terdengar suara-suara keramaian layaknya manusia sedang berperang di sana. Menjulang setinggi 3.265 mdpl di sisi timur Jawa Tengah, menjadi saksi kuatnya sebuah rasa setia kawan, tempat di mana ego pribadi ku tinggal pergi, menjadi tempat energi-energi positif ku bawa pulang.

2017, Wonosobo | Untuk keempat kalinya mendaki dan menginjakan kaki di puncak gunung. Gunung Prau, gunung yang konon pemiliki gerbang menuju dimensi lain, diyakini sebagai sebab hilangnya para pendaki. Menjulang setinggi 2.695 mdpl, puncak yang melatih kami konsistensi, memilih keputusan yang paling berarti, di tengah kebingungan yang mendatangi kami.

2017, Magelang | Untuk kelima kalinya mendaki dan menginjakan kaki di puncak gunung. Gunung Sumbing, gunung yang konon kerap menampakan sosok perempuan tengah merintih menangis kesakitan pada malam hari. Menjulang setinggi 3.371 mdpl, menjadi kenangan, dialah yang paling setia kawan, janji itu kau tulis di kertas putih, seolah akan kekal di Puncak Sejati.

2017, Boyolali | Untuk keenam kalinya mendaki dan menginjakan kaki di puncak gunung. Gunung Merapi, gunung yang terkenal dengan Pasar Bubrahnya, konon kerap terdengar suara riuh layaknya manusia sedang bertransaksi di pasar. Menjulang 2.930 mdpl, puncak yang memang tak akan pernah ingkar janji, tempat di mana siapa pun akan datang kembali, tak terkecuali dengan kami.



2018, Temanggung | Untuk ketujuh kalinya mendaki dan menginjakan kaki di puncak gunung, Gunung Sindoro. Gunung yang konon kerap memunculkan suara-suara gamelan jawa, tempat bagi kerajaan jin berada. Menjulang 3.136 mdpl, puncak yang mengajarkan kami arti berbagi, kebersamaan yang begitu berarti, hingga tak disadari, keindahan yang menyelimuti kami.

2018, Boyolali | Untuk kedelapan kalinya mendaki dan menginjakan kaki di puncak gunung, Gunung Merbabu. Gunung yang konon kerap menampakan sosok bidadari memenuhi taman, taman di mana hamparan Bunga Edelweis tumbuh subur di sini. Menjulang 3.145 mdpl, puncak yang menyaksikansuatu kemenangan, sebab kala badai malam itu menerjang, seolah kami tak ada tandingan.

2018, Kudus | Untuk kesembilan kalinya mendaki dan menginjakan kaki di puncak gunung. Gunung Muria, gunung yang konon. Menjulang setinggi 1.700 mdpl, tempat dimana rasa bahagia dan bangga ku curahkan, bersama dua kawan, merayakan suatu keberhasilan.



Selasa, 23 Februari 2021

ERERE!

12 Juli 2019, teringat jelas bagaimana kami untuk kesekian kalinya bertemu. Aku, Bayu, Andy, Ekka, Fey, Yupi, Riri, Dhika, Anisah, Esty, Iva, dan Diana saling berbaris di lapangan rektorat mendengarkan beberapa orang berbicara di depan sana. Tidak hanya kami, kurang lebih ada ratusan mahasiswa lainnya di lapangan ini, berdiri dengan memakai pakaian yang sama, dengan maksud yang sama pula. Seolah tidak ingin membuat kalian penasaran, tidak juga ingin membuat kalian bertanya-tanya sedang apa kami di sini panas-panasan. PENERJUNAN, satu kata yang mungkin bagi mahasiswa Universitas Negeri Semarang selalu identik dihubungkan dengan kegiatan ke luar kampus. Bukan pertukaran pelajar, bukan kuliah lapangan, bukan juga kerja lapangan, dan kalian pasti sudah bisa menebaknya sekarang! Kami lebih suka melafalkan KAKAEN ketimbang KKN entah mengapa πŸ™„... yang jelas aku juga 11 temanku yang lain akan hidup dan tinggal di sebuah kabupaten paling barat Jawa Tengah. Seolah seperti burung yang dilepaskan Pak Rektor, kami secara resmi diterjunkan pada hari itu juga! 

14 Juli 2019, kami berdua belas tiba di lokasi. Bak tamu istimewa, kami disambut warga sekitar yang penasaran dengan wajah-wajah imut kami. Bahkan anak-anak di sana pun kalah imut dengan kami! Seolah tidak ingin kami kesusahan membawa perbekalan, sebagian warga turut menyumbng tenaga, mengangkat lalu membawakan perbelakalan kami ke rumah kosong di pojok sana. Rumah yang cukup besar, gedongan, dan dikelilingi sawah. Entah bagaimana suasana di sana pada saat itu, yang jelas terasa panas di badan dan muka kami. Anak kecil yang seolah tidak mau ketinggalan, mereka juga turut ikut membantu kami, meski hanya doa yang bisa mereka beri. Ahh! Melihat antusias mereka, ingin rasanya kami bekerja saat itu juga! Tidak mungkin, kami harus menghormati tubuh kami yang berhak istirahat saat itu. Parereja, desa yang menurutku cukup maju. Ada dua masjid besar berdiri di utara dan selatan, tiga sekolah dasar, sedikit banyak toko yang sedang buka, lalu satu indomart di pinggir jalan utama desa. Sekilas kami hanya sebatas tahu hal itu.

13 Juli 2019, pagi hari kami mendapatkan kertas putih seperti undangan, tertulis jelas KKN UNNES di situ. Rupanya sambutan kedatangan kemarin itu hanya bumbu penyedap saja sebab di undangan tersebut tertulis sebuah agenda, adalah penyambutan mahasiswa KKN di aula desa! Benar-benar hal istimewa bagi kami. Malam hari rupanya, baiklah ada waktu cukup bagiku merangkai kalimat-kalimat indah yang akan aku sampaikan di hadapan mereka dan juga teman-temanku pukul 20.00 nanti. Sebenarnya aku sudah mempersiapkan itu sebelumnya, hanya saja aku harus menyelingi kalimat-kalimat impresi pertama saat kami dua kali tiba di sini. Saat yang ditunggu pun tiba, kami duduk di barisan kedua, yang jelas aku sangat tegang saat itu 😬. Bukan seperti di depan dosen, mahasiswa, bukan juga rekan organisasi yang boleh saja aku berbicara ngalor ngidul, kesempatan ini harus aku jadikan momen istimewa, yang jelas aku wajib terlihat profesional dan berwibawa 😜. Sebenarnya ini bukan kali terakhirnya aku berbicara di kesempatan seperti ini, jadi masih ada tegang-tegang yang lain nantinya πŸ€ͺ.

Aku sendiri adalah anak FMIPA, mereka Fey dan Ekka adalah anak FBS, Yupi dari FIS, Riri dari FT, Andy dan Esti dari FIK, Anisah dan Dhika dari FE, sedangkan Diana dan Iva dari FH. Latar belakang pendidikan kami cukup beragam, itulah sebabnya kami semua merasa tim kami unik. Untuk tanggungjawab sendiri, aku dipercaya mereka menjadi koordinator mahasiswa dengan dibantu oleh Bayu yang sewaktu-waktu dapat mewakili (bahkan mungkin menggantikan diriku) πŸ™„. Kegiatan kami mencakup 4 bidang: pendidikan, ekonomi, kesehatan, dan lingkungan. Sesuai tujuan utama KKN, program kami rancang untuk membantu memecahkan (bila tak sanggup mungkin "mengurangi" yang jelas bukan semakin "menambah") permasalah-permasalahan yang ada di tengah masyarakat, tentunya akan kami sesuaikan dengan kapasitas dan bidang keilmuan yang kami miliki.

29 Juli 2019, minggu kedua dimana satu persatu program kami mulai berjalan. Sebetulnya, kami sudah cukup disibukkan dengan beberap kegiatan desa pada minggu lalu dan posko kami yang setiap malam mulai ramai kedatangan anak-anak meminta les, tapi karena kali pertama kami melaksanakan program kami sendiri tentu saja energi kami masih sangat tinggi, kekompakan masih serekat lem alteco, dan wajah kami yang jelas masih saja terlihat imut πŸ™„. Jika ditotal, setidaknya ada 13 program yang akan kami laksanakan di desa ini. Kalian bisa saja membaca buku kami atau dapat pula membuka media sosial dan video YouTube kami jika kalian memerlukan referensi program-program KKN, sebab tidak akan aku ceritakan satu persatu di sini. Akseslah sesuka hati link berikut ini πŸ‘‡

Buku program kerja:

https://drive.google.com/file/d/1vLbWebyMB8ArkYSakpsFicatPf5I1tBw/view?usp=sharing

Publikasi program kerja ke portal berita:

https://www.kompasiana.com/amp/diah76618/5d6f1af60d823043ca65b282/tingkatkan-mutu-usaha-kesehatan-di-sekolah-uks-mahasiswa-kkn-unnes-adakan-pemilihan-dokter-kecil-di-parereja

https://brebesnews.co/2019/09/mahasiswa-kkn-unes-adakan-pemilihan-dokter-cilik-di-parireja/

Video YouTube program kerja kami πŸ‘‡


Video YouTube profil Desa Parereja

BERSAMBUNG!





 



Senin, 22 Februari 2021

Proposal PKM Ini Lolos Seleksi Universitas!

Saya sangat yakin, tidak sedikit dari kalian yang pernah mengira bahwa kuliah adalah masa yang jauh lebih santai daripada sekolah, benar? Momen dimana kalian bisa memiliki lebih banyak waktu luang, belajar tanpa ada banyak aturan, kapan dan di manapun bisa nongkrong, dan sejenisnya mungkin... apalagi di keseharian kita, kebebasan berpakaian tidak begitu dipermasalahkan, tentu saja akan menambah kesan santai, benar begitu? Bagi kalian yang sudah masuk dan merasakan dunia perkuliahan, seperti apa jawaban kalian sekarang? Berbanding terbalik, bukan? Namun... tentu saja semua itu, tergantung pada pandangan pribadi masing-masing! Sebagian bisa mengatakan sama saja, sementara sebagian yang lain justru mengatakan sebaliknya. Bagi Saya, masa kuliah adalah masa dimana kita bisa memilih dan menentukan jalur mana yang akan membawa dan menunjuk perjalanan karir kalian nantinya, sedangkan masa-masa kalian di SMA, hanya akan menjadi bumbu-bumbu penyedap saja. Tentu saja, kesan santai bukanlah hal yang tepat menggambarkannya, justru... momen kuliah inilah, sebaiknya memulai mencari dan menentukan identitas terbaik kita.

Seolah tak ingin banyak berbasa-basi, di kesempatan ini Saya ingin sekali berbagi sesuatu ke postingan Saya, sesuatu yang berkaitan dengan hasil karya tulis Saya dan tim, mencoba menjadi mahasiswa tanpa batas, yang kami sadari bahwa dunia perkuliahan tidaklah lebih santai. Sejujurnya, Saya masih sangat miskin akan prestasi akademik di kampus. Itulah sebabnya Saya berniat mengusahakan dan memperjuangkan segala sesuatu, meskipun pada akhirnya kegagalan yang Saya peroleh... itu jauh lebih BAIK, bukan?

Tahun 2018 merupakan kali pertamanya Saya menjajal, menulis, dan mengajukan proposal Program Kreativitas Mahasiswa atau yang biasa mahasiswa sebut dengan PKM. Sebagian mungkin sudah mengenal apa itu PKM. Namun, bagi yang belum, sebenarnya PKM itu apa? Mengapa banyak sekali mahasiswa yang ingin proposalnya diloloskan dan didanai?

PKM merupakan sebuah wadah untuk potensi yang dimiliki mahasiswa Indonesia untuk mengkaji, mengembangkan, serta menerapkan ilmu dan teknologi yang telah mereka pelajari selama kuliah untuk membangun masyarakat melalui berbagai bidang. PKM sendiri dibentuk oleh Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia. Saat ini, PKM memiliki tujuh bidang atau jenis kegiatan yang bisa kalian ikuti setiap tahun dan yang jelas kalian juga akan mendapat dukungan dana penuh dari pemerintah (bagi yang proposalnya diloloskan pada seleksi Belmawa). Bidang-bidang tersebut antara lain PKM-Penelitian, PKM-Penerapan Teknologi, PKM-Kewirausahaan, PKM-Pengabdian Kepada Masyarakat, PKM-Karsa Cipta, PKM-Artikel Ilmiah, dan PKM-Gagasan Tertulis. Adapun manfaat yang bisa mahasiswa peroleh antara lain dapat mengasah kreativitas, kemampuan menulis, menyampaikan, dan menuangkan ide mereka, memperoleh pengalaman dan pengakuan, serta yang terpenting ialah turut serta membantu membangun masyarakat di sekitar kita. Itulah sebabnya kalian patut sekali mencoba!

Proposal yang Saya dan tim buat pada dasarnya muncul atas ide kami mencoba mengubah varian pasta gigi di pasaran menjadi sediaan permen karet sebagai peluang wirausaha baru di masyarakat. Ide kami datang dari hasil mengamati fenomena mobilitas manusia yang semakin tinggi sehingga di era modern seperti sekarang ini semua dituntut untuk cepat dan praktis. Salah satu tuntutan itu bisa berupa kemunculan pertanyaan bagaimana pola menjaga kesehatan gigi yang lebih cepat, efisien, dan praktis. Pada pelaksanaanya, sesuai bidang keilmuan yang kami tekuni, tentu saja kami berupaya menggunakan bahan-bahan alami dalam proses pembuatannya. Salah satu bahan alami yang kami gunakan saat itu adalah Daun Kemangi. Berdasarkan dari banyak penelitian yang sudah dipublikasikan, Daun Kemangi mengandung minyak esensial yang ternyata memiliki efek antimikroba cukup kuat. Bagi kami, manfaat daun inilah yang dinilai memiliki keunikan tersendiri sehingga sangat bersyukurnya kami, ketika proposal yang kami buat dinyatakan lolos pada seleksi internal tingkat universitas.


Bahagia dinyatakan lolos pada saat itu

CiliDent, itulah nama produk kami pada saat itu. Seperti yang sudah Saya jelaskan sebelumnya, produk yang hendak kami buat berupa pasta gigi dengan wujud permen karet. Produk didesain memiliki nilai praktis yang sangat baik sehingga meningkatkan peluang dijadikan sebagai alternatif produk pesaing di kalangan masyarakat luas. Pada seleksi internal tingkat universitas, proposal kami yang telah dinyatakan lolos, siap untuk mengikuti tahap selanjutnya yaitu seleksi tingkat nasional oleh Belmawa. Besar kemungkinan masih banyak hal yang perlu dikaji secara mendalam, pada saat pengumuman seleksi tersebut, proposal kami tidak masuk dalam daftar yang didanai. Keep spirit buat Saya dan tim!!! 


Kemasan CiliDent

Bagi kawan-kawan yang penasaran dan berkeinginan membaca proposal kami. Kalian bisa mengunduhnya melalui link di bawah ini.

https://drive.google.com/file/d/1VEj6MANUNUnm7MkLt9H-vG1iS1jNN_MF/view?usp=sharing

Semoga postingan ini bermanfaat bagi kawan-kawan yang berencana mengikuti PKM, khusunya bidang PKM-Kewirausahaan ya! Perlu kalian ingat, proposal kami menggunakan format dan panduan penulisan tahun 2018, sehingga akan lebih aman jika kawan-kawan cek dan ricek kembali update format serta panduan terbarunya!

Terima kasih karena telah membaca!

Karena Hal ini, Kami Dapatkan Apresiasi!

Momen paling menyebalkan ketika kalian pertama kali memulai bangku kuliah mungkin saja adalah menyia-nyiakan waktu, uang, dan tenaga untuk menyiapkan hal-hal yang dirasa tidak ada manfaatnya sama sekali bukan? Begadang menyiapkan ini dan itu, menghamburkan uang untuk membeli hal yang sebenarnya tidak dibutuhkan, belum lagi kehilangan energi untuk bergerak kesana dan kemari? Hal lain apa yang mungkin kalian rasakan ketika harus berurusan dengan kegiatan OSPEK? Iya begitulah aku akan membahas hal yang berbau OSPEK di sini. Mungkin di telinga sebagian mahasiswa terdengar merdu ya? Tapi bagi sebagian yang lain justru mungkin terkesan sebaliknya.

OSPEK mungkin telah menjadi budaya tahunan di setiap perguruan tinggi. Tapi pada kenyataannya akan berbeda-beda dari teknis pelaksanaanya. Kegiatan itu sendiri pada umumnya terdiri dari tiga tahapan, tahap pertama ketika kalian harus terlibat dalam OSPEK tingkat universitas, tahap kedua terlibat di tingkat fakultas, dan terakhir di tingkat jurusan. Dan jujur saja, kalian paling benci ikut yang di tahap ketiga bukan? Haha. Biar ku tebak! Pasti karena penugasan yang aneh-aneh ya? Haha. Tapi... di sini aku tidak akan membahas hal-hal aneh tentang penugasan ya! Aku justru akan berbagi cerita bagaimana OSPEK bisa membuat aku sebagai salah satu panitia merasa bangga karena berhasil menyelenggarakan acara semacam ini haha.


Hore dapat sertifikat

Terlibat dalam kepanitiaan suatu kegiatan tentu menjadi hal yang menantang bagiku, terlebih apabila kegiatan yang diselenggarakan berskala besar dan melibatkan ribuan peserta. Tanggung jawab yang diberikan tentu akan menjadi hal yang sangat berarti bagi proses pengembangan diri. Sebuah kebanggaan tersendiri bila tanggung jawab tersebut berhasil diemban dengan cukup baik. Melihat dokumentasi berulang kali, mengabadikanya melalui media sosial, bercerita kepada kawan seperjuangan adalah bentuk dari ekspresi rasa bangga bagiku.

Setiap tahun, OSPEK UNNES atau OSMB UNNES yang sudah berevolusi namanya menjadi Program Pengenalan Akademik dan Kemahasiswaan (PPAK) selalu diselenggarakan di kampus kami. Tidak akan membahas tentang PPAK tingkat universitas dan jurusan, kali ini aku yang bercerita seperti apa tugas dan tanggung jawab diriku serta bagaimana panitia akhirnya kami mendapatkan apresiasi dari birokrat kampus.

Tahun 2018 merupakan tahun ketiga aku berurusan dengan PPAK, satu kali sebagai peserta dan dua kali menjadi panitia. Saat menjadi peserta mungkin akan berbeda cerita dengan saat menjadi panitia ya? Haha... ya jelas dong! Tahun sebelumnya aku menjadi salah satu panitia dengan tanggung jawab sebagai pendamping jurusan kimia. Tugasnya mudah, aku hanya perlu membuat yel-yel dan jargon, membuatnya menjadi video yang bisa peserta tonton untuk latihan, mendampingi dan menilai peserta selama kegiatan berlangsung. Namun untuk tahun ini, aku rasa jauh dari kata mudah haha. Ya jelas saja! Hal-hal yang berkaitan dengan seluruh sarana dan prasarana kegiatan harus aku sediakan dan penuhi. Tentunya aku tidaklah sendirian, aku bersama 5 orang teman lainnya yang terdiri dari Fitri, Defin, Ahda, Faiz, dan Dita ditunjuk untuk mengisi divisi perlengkapan dan logistik pada saat itu. Tanggung jawab kami terbagi menjadi tiga fase. Fase pertama meliputi peran dan tugas sebelum kegiatan dimulai, fase kedua ketika kegiatan berlangsung, dan terakhir ketika kegiatan telah selesai. 


Saat menjadi peserta

Tahun pertama menjadi panitia

Pada fase pertama kami disibukkan dengan rapat-rapat besar dan mempersiapkan segala sesuatu yang berkaitan dengan sarana dan prasarana penunjang kegiatan sebelum akhirnya acara dimulai 3 bulan kemudian. Hal yang paling aku ingat selama persiapan adalah ketika kami harus berkeliling Kota Semarang mencari persewaan panggung, tratak, drone, dan sound system yang pas di kantong anggaran. Bayangkan saja dengan segala keterbatasan dana, hampir 75% anggaran divisi kami habis untuk menyewa barang tersebut sedangkan sisanya kami gunakan untuk menganggarkan yang lain. Beruntungnya saat itu, kami memiliki banyak channel peminjaman dimana tidak perlu lagi memakai anggaran yang tersisa meskipun tidak semuanya GRATIS! Aku juga masih sangat ingat ketika kami harus melakukan negosiasi alot dengan birokrat kampus yang melarang penggunaan lahan di depan gedung rektorat untuk keperluan salah satu kegiatan kami nantinya. Sampai akhirnya kamilah yang menjadi panitia PPAK pertama yang bisa menikmati fasilitas lahan tersebut!!! Meminjam dan mengatur puluhan ruangan, lembur menyiapkan panggung, dekorasi, dan segalanya, serta masih banyak lagi hal yang tidak bisa aku ingat dengan jelas. Ahhh! Beginilah divisi kami... ketahanan fisik lebih kami andalkan haha.

Tiga bulan berlalu, kini saat yang dinantikan terjadi! Hari pertama ketika kami harus standby apapun yang terjadi dan kami benar-benar kurang tidur karena semalaman mengontrol alat dan menemani panitia yang lain melakukan geladi kotor. Kami kira selama tiga hari ke depan waktu tidur kami akan terampas dan benar saja itu terjadi! Kami harus menjaga semua peralatan siang dan malam belum lagi harus mengikuti evaluasi dan persiapan untuk hari kedua. “Masih ada hari ketiga loh!” kalimat yang keluar dari mulut ketua kami saat itu, Abror!!!

Tiga hari yang membuat kami menjadi kuat dan segala pelajaran yang bisa diambil kini telah terlewati. Gembira, bangga, dan bersyukur menjadi satu dalam perasaan kami pada saat itu. Begitu juga panitia yang lain aku kira. Meskipun bagi kami masih jelas ada tugas  lain yang selalu setia menanti. Ya! Kami harus mengembalikan semua peralatan yang kami pinjam. Serasa masih ingin melekat di diri kami, masalah demi masalah datang! Kami banyak menerima komplain dari mereka yang kami pinjami, bentuknya macam-macam... ada bagian yang kurang lengkap, ada yang tertukar, ada yang rusak, ada yang hilang haha... Yang jelas sampai saat ini masih ada barang yang belum kami tebus haha... semoga saja yang punya tidak membaca part ini!

Momen kepanitiaan PPAK kali ini memang EPIC dan berbeda! Bagi diriku juga mungkin bagi panitia yang lain. Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya yang terkesan kurang bervariasi atau kata kasarnya cuma itu-itu aja! Jelas ada beberapa alasan kenapa kami bisa mengatakan demikian. Hal pertama yang mungkin terlihat sepele adalah posisi panggung. Ya! Tahun ini kami posisikan panggung berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Jika sebelumnya panggung berada di depan, justru tahun ini panggung berada di tengah! Terdengar aneh mungkin ya bagi kalian? Sebetulnya jika kalian melihat kontur lahan di fakultas kami yang juga tidak memiliki lahan luas, jadi posisi panggung di tengah dinilai lebih baik dan menguntungkan. Daan... hal paling berkesan bagi kami adalah ketika kali pertamanya kami mempersembahkan PAPERMOB sepanjang pelaksanaan PPAK di fakultas kami!!! Menurut kalian apakah itu sebuah prestasi? Bagi kami sebagai panitia ini adalah bentuk prestasi dong! Seakan bukan hanya kami yang merasa bangga, Prof. Zaenuri dan Prof. Sudarmin selaku Dekan dan Wakil Dekan III pun mencurahkan rasa yang sama di dalam sambutannya. 


Foto bersama Pak Rektor, Pak Dekan, dan Pak WD III


PAPPERMOB

Kalian bisa melihat video singkat PAPERMOB kami di bawah ini

Sekian secuil cerita dari aku ya... banyak terima kasih bagi kalian yang sudah bersedia membacanya. Kurang panjang karena aku sedikit banyak part yang lupa, jadi harap maklum!

Minggu, 21 Februari 2021

Pertama Kali Aku Punya Dua Peran di Organisasi Ini!



Dokumentasi CHEVENT

Seandainya polling dibuat, mengikuti sebuah organisasi apapun itu, merupakan sebuah keharusan atau justru sebuah kesunahan? Kira-kira kalian sebagai mahasiswa akan memilih yang mana sob? Sebab ketika Saya berbicara organisasi, selalu saja mendapat dua jenis penilaian, pro dan kontra. Sebagian mengkaitkan dengan pengembangan diri, sebagian lagi mengkaitkan dengan kesibukan kuliah. Tidak akan membahas pro dan kontra berorganisasi dalam pandangan mahasiswa. Saya justru tertarik bercerita bagaimana tantangan keterbatasan anggota yang mungkin saja terjadi dalam sebuah organisasi. 

Bukan rahasia lagi, jika organisasi selalu identik dengan kerja sama antar anggota. Adanya struktur atau pembagian tugas yang jelas, memudahkan anggota untuk fokus pada kewajiban masing-masing. Sebab dalam struktur tersebut, merupakan suatu bentuk komitmen sejak awal pembentukan organisasi, sehingga setiap pihak anggota yang memegang komitmennya, tentu akan terjalin kerja sama yang baik untuk mencapai tujuan bersama.

Namun pernahkah kalian, melihat atau mengikuti organisasi yang anggotanya hanya terdiri beberapa orang saja? Bagaimana bisa mereka menjalankan tugas dan tanggungjawab masing-masing bila ternyata memiliki lebih dari satu peran di dalamnya? Mungkin saja terkesan sedikit aneh, benar? Saya meyakini bahwa sebenarnya, tidak sedikit organisasi yang mengalami hal demikian di luar sana. Organisasi ini adalah salah satunya. CHEVENT, organisasi dengan pengurus yang hanya terdiri dari 5 orang termasuk Saya di dalamnya. Sedikit berbagi pengalaman melalui postingan ini, cerita bagaimana Saya memiliki peran ganda di dalam organisasi yang tergolong sudah lama berdiri ini. Seandainya kalian penasaran lanjut baca hingga selesai ya sob... πŸ‘Œ

Sudah sejak SMA, Saya memang sudah sangat mencintai aktivitas yang bersinggungan dengan jalan-jalan. Bukan seperti jalan-jalan pada umumnya, yang notabene orang mengkaitkan dengan aktivitas berkendara sepanjang jalan  memakai motor, becak, bis, ataupun pesawat. Entah sifat yang Saya dapatkan dari siapa! (Yang jelas bukan dari tetangga kanan, kiri, depan, ataupun belakang πŸ™„), Saya teramat suka menyusuri hutan pegunungan di daerahku πŸŒ‹ (hal tidak istimewa yang mungkin saja orang pikirkan). Tidak istimewa? Ketika SMA, Saya pernah solo hiking ke Gunung Slamet loh sob! Meskipun pada akhirnya di jalur pendakian, Saya sering menjumpai beberapa pendaki lain, tapi entah mengapa, Saya selalu ingin terpisah dengan mereka dan Saya rasa letak perilaku anehnya memang di situ!  Padahal... entah hewan liar, kabut, cuaca buruk, tersesat, dan bahaya lainnya yang sewaktu-waktu mengintai, Saya sendiri yang akan panik πŸ‘€. Namun, tentu saja tidak semudah itu aku panik sebab Saya, siswa yang pernah selama setahun terjun ke organisasi pecinta alam di sekolah, cukup mengetahui dasar-dasar bernavigasi dan survival di hutan. 

Jadi singkatnya, kesenangan ini ternyata terbawa hingga Saya memulai kuliah sarjana pada September 2016 lalu. Namun sayangnya, niat sekarang tidaklah sebesar dulu sebab Saya yakin sekali, di bangku kuliah akan jarang-jarang ada komunitas serupa. Apalagi jurusan yang Saya minati, cenderung digambarkan sebagai tempatnya anak anak yang tidak santuy oleh sebagian besar orang 😢, atau mungkin saja lokasi kampus yang akan cukup jauh dari kehidupan hutan di pikiran Saya dulu. Seolah menonton FTV Indo*iar yang selalu membuat Saya heran, justru di setiap jurusan di Fakultas MIPA, terdapat komunitas Pecinta Alam (PA) nya masing-masing sob! Sontak stigma Saya serasa langsung berputar 360 ΒΊ (180 ΒΊ maksudnya sob! πŸ˜’). Itulah sebabnya ketika menjadi mahasiswa baru pada saat itu, orang pertama yang dipastikan  mendaftar komunitas PA di kimia adalah Saya!

Beberapa bulan kemudian, sebuah pesan Whatsapp membuat handphone Saya berbunyi kala itu, Saya mendapat pesan dari nomor +6287XXXXXXXX yang diketahui adalah salah satu pengurus PA kimia. Isi pesan yang rupanya adalah pemberitahuan  kegiatan temu perdana πŸ‘. Hingga di suatu ketika kesempatan itu datang... perasaan heran Saya yang kedua sontak kembali. Saya rasa semua orang pun akan merasakan heran yang sama ketika harus mengetahui fakta bahwa hanya ada Saya dan satu mahasiswa perempuan berkerudung saja yang mendaftar! Itu artinya, dari 230 mahasiswa baru kimia saat itu, kurang dari satu persen (< 1%) nya memiliki minat yang sama dengan kami berdua! Bahkan seolah lebih parah, mereka (pengurus) bercerita bahwa di tahun sebelumnya, tidak ada satupun mahasiswa baru yang berminat mendaftarkan diri sob! πŸ§›. Tidak sampai heran yang teramat sangat, akhirnya Saya mulai faham bahwa momen serupa memang sudah dari tahun ke tahun terjadi.

Merasakan ketidakyakinan, sebab nantinya beban tugas yang diberikan kepada kami berdua, tidak bisa dijalankan secara maksimal. Singkat cerita, kami berdua mempunyai inisiatif mengajak teman satu rombel kami untuk bergabung. Masih teringat jelas bagaimana teman Saya yang diakui Fera namanya, aktif sekali di grup Whatsapp kelas kami, seolah seorang sales handal yang menawarkan barang dagangannya dari rumah ke rumah. Lalu, dengan cara yang berbeda Saya melakukan hal yang sama kepada teman dekat Saya ketika itu. Usaha yang cukup membuahkan hasil, kami mempunyai dua teman lagi yang sanggup bergabung. Namun sayangnya, mereka berdua ternyata juga perempuan. Sebagai seorang laki-laki sendiri, Saya sedikit banyak canggung pada saat itu. Seolah ingin tetap bersyukur dengan kehadiran mereka, Saya merasa kondisi ini jauh lebih baik daripada hanya kami berdua yang harus memikul tanggungjawab nantinya. Beberapa minggu kemudian, Naufal, teman satu kabupaten Saya, bergabung dengan kami. Ternyata, Naufal adalah mahasiswa terakhir yang mendaftar pada saat itu. Itu artinya, kami hanya akan berlima dan yang jelas, Saya adalah COWOK sendiri! πŸ‘Œ.


Dokumentasi CHEVENT

Oh iya! Seperti yang sebelumnya kalian ketahui, komunitas ini bernama resmi Chemistry Adventure Team atau jika disingkat, kami menyebutnya dengan CHEVENT. Organisasi ini mewadahi mahasiswa yang berminat di bidang kepecinta-alaman, berdiri di bawah naungan Himpunan Mahasiswa Kimia (HIMAMIA) sehingga sering kami sebut sebagai Badan Sub Organisasi (BSO). Berdiri pada tahun 2004, saat ini (per tahun 2021) sudah memiliki sekitar 62 anggota dan 4 pengurus aktif. Setiap tahun kami selalu merekrut anggota baru untuk bergabung. Tidak ada batasan dalam organisasi kami, selama kalian adalah anak jurusan kimia yang memiliki minat berkegiatan sebagai pecinta alam dari berbagai latar suku, agama, budaya, gender, orientasi seksual, dan sebagainya, bisa ikut bergabung dan berperan aktif terhadap komunitas ini.

Sepanjang tahun 2017, Saya dan keempat rekan lainnya, terdiri dari Fera, Umu, Fifi, dan Naufal melewati fase yang tidak sedikit, hingga pada momen di penghujung tahun,  kami pun dilantik menjadi bagian utuh dari komunitas ini. 

Video singkat pelantikan kami bisa kalian lihat di bawah ini

Awal tahun 2018, merupakan masa-masa berakhirnya pengurus angkatan XII, angkatan di mana Mas Ardhi dan ketiga rekannya dinyatakan selesai. Seperti tradisi sebelum-sebelumnya, mereka juga mengadakan Musyawarah Anggota (MUSYANG) dan melibatkan kami berlima dalam kegiatan tersebut. Pada intinya, bentuk kegiatan ini berupa laporan pertanggungjawaban dari pengurus angkatan XII kepada seniornya yakni pengurus angkatan XI sebagai Dewan Kehormatan. Tak hanya itu, dalam kesempatan tersebut, terjadi reorganisasi dengan serah terima tanggungjawab kepengurusan dari mereka ke kami sebagai calon pengurus angkatan XIII. Perlu waktu kurang lebih 6 jam saja, acara tersebut dapat selesai! Dan sesuai yang Saya prediksi sejak awal, Saya yakin Saya lah yang akan mereka pilih sebagai ketua di komunitas ini. Tidak perlu Saya jelaskan mengapa? Kalian pasti mengerti alasanya! πŸ‘€Seolah sudah tahu endingnya, Saya tidak kaget dan tidak akan berpura-pura kaget juga ketika nama Saya mereka sebut. Mungkin hanya senyum manis ku saja, ekspresi yang akan aku berikan! Benar saja, prediksi Saya seakan tidak meleset, tepat dan akurat. OkeπŸ‘Œ... Tanggung jawab baru dalam hidup Saya! Ini merupakan kali kedua Saya, tergabung ke dalam organisasi sejak tahun 2017, di saat Saya masih berstatus sebagai Staff Ahli Departemen Sosial BEM FMIPA UNNES 2017, bahkan di tahun berikutnya pun, Saya masih aktif di organisasi yang sama dengan tanggung jawab yang lebih besar tentunya. Sehingga, sudah bisa Saya bayangkan bagaimana sibuknya Saya di tahun 2018 esok 🧘.

Bak seperti buah mentah yang baru dipetik dari pohonnya, kami berlima tentu saja masih terlihat sangat freshhhh dan yang jelas masih buta akan pengalaman! Seperti seharusnya, kami mulai mengagendakan kumpul dan bersyukurnya, kami hampir setiap hari bertemu! Secara kebetulan, kami berempat, Aku, Fera, Fifi, dan Umu berada di satu kelas yang sama, sedangkan Naufal, dia berbeda prodi dengan kami. Mulailah kami menyusun STO, menata basecamp, dan lain-lain selayaknya pengurus organisasi pada umumnya. 

Seolah baru saja mulai berlayar, kami langsung dihadapkan pada kebingungan!  Adalah berkaitan dengan STO! Bagaimana tidak? Organisasi dengan hanya lima pengurus, HARUS mengisi delapan posisi struktur kepengurusan yang ditetapkan. Saat itu, kami masih mengikuti format STO yang dipakai oleh pengurus sebelumnya. Struktur tersebut terdiri dari ketua, wakil ketua, sekretaris, bendahara, biro rumah tangga, serta 3 divisi yang terdiri dari divisi sosial masyarakat, divisi mountaineering, dan divisi pengembangan sumber daya manusia. Sehingga, ini benar-benar kali pertama Saya, harus memiliki dua peran sekaligus dalam sebuah organisasi. Tidak hanya Saya, teman-teman Saya juga demikian. Sontak, bisa dibayangkan bagaimana hebatnya pengurus sebelum kami πŸ‘.

Bagi Saya pribadi... permasalahan rangkap peran atau jabatan dalam sebuah organisasi yang non profit tidak akan membawa dampak langsung terhadap kinerja organisasi apabila dijalankan dengan benar, malah bisa disebut sangat membantu karena kerja organisasi akan terbantu. Lain halnya jika terjadi pada organisasi yang berorientasi pada profit seperti perusahaan. Permasalahan ini justru akan menimbulkan dampak seperti conflict of interest.

Hai sob! cukup dulu ya!

BERSAMBUNG!

Menulis Study Plan ala Gue!

Hai sob!

Beberapa waktu yang akan datang, Saya akan cerita pengalaman mendaftar dua beasiswa belajar ke Korea Selatan kepada kalian. Supaya berbeda dengan postingan kebanyakan orang, dalam part/bagian ini, Saya akan berbagi contoh study plan/rencana belajar yang pernah Saya tulis untuk mendaftar kedua jenis beasiswa tersebut terlebih dahulu. Perlu sekali kalian garis bawahi, jangan jadikan tulisan ini sebagai patokan kalian ketika akan menulis study plan kalian, cukup jadikan sebagai referensi saja. Hal yang terpenting adalah konsep orisinilitas yang muncul dari hasil pemikiran kalian sendiri. 

Bagi kalian yang berminat mendaftar beasiswa tahunan Global Intern Program (GIP) dan Master Student Scholarship di salah satu universitas terbaik di Korea Selatan yaitu Gwangju Institute of Science and Technology (GIST), menulis study plan merupakan sebuah kewajiban. Tidak hanya akan diminta menulis study plan, kalian juga akan disuguhi pertanyaan-pertanyaan lain yang tentu saja harus kalian jawab. Berikut penjelasannya!  

Knowledge of Major Field

Untuk bagian ini, kalian dapat mengisinya dengan pengetahuan, pendidikan, pengalaman kerja, dan lain-lain yang tentu saja ada kaitannya dengan jurusan yang akan kalian ambil di GIST. Berikut adalah contoh paragraf yang pernah aku tulis.

“During my undergraduate study, I was interested in studying nanomaterial science particularly for environmental applications because I really like both environmental chemistry and nanotechnology. On the other hand, I also have strong motivation to learn bacteria particularly on their role in aquatic pollution treatment. Because of this interest, my thesis research titled “The Effect of Chemical Oxygen Demand (COD) and Dissolved Oxygen (DO) Concentrations to the Performances of Activated Sludge Bacteria of Resin Industrial Wastewater Treatment” is a combination of microbiology and environmental chemistry. Therefore, during my master research, I will combine the above mentioned fields into an area of research that I am interested in. For the master research, I will take a research topic related to wastewater treatment bacteria in nanomaterial synthesis. 

Recently, microbial metal reduction can be a strategy for remediation of metal contaminations and wastes. Bacteria are capable of mobilization and immobilization of metals and in some case, the bacteria which can reduce metal ions show the ability to precipitate metal at nanometer scale. The biosynthesis of nanoparticles using bacteria has emerged as rapidly developing research area in green nanotechnology across the globe with various biological entities being employed in synthesis of nanoparticles constanly forming an impute alternative for environmental chemical and physical methods. However in my opinion, a future challenge for the biosynthesis nanoparticles using bacteria is scaling up for production level processing. Therefore, I will be conducted some research in the optimization process of producing nanoparticles with well characteristics including desired morphologies and controlled sizes, fast, and clean in order to reach successful industrial scale in the future.

During my bachelor study, I have studied nanomaterial science through a nanotechnology class in the 6th semester. I have studied the basics of nanotechnology, synthesis and characterization techniques, also their applications in industrial activities. I got 4,00 score (out of 4,00) on this course. In the 3rd semester, I have studied environmental chemistry. I have studied the sources, reactions, transports, effects, and fate of chemical species in the environment, also their effects on humans. When attending this course, I tried to conduct a mini project for my own accord with the aim of knowing the Fe level in well water of my dormitory. On this course, I got 3,50 score (out of 4,00). I also studied microbiology in the 3rd semester. I have studied the isolation, purification, and identification techniques of microorganisms, also their role in human life particularly in the field of environment. I got 4,00 score (out of 4,00) on this course. In order to explore more about this course, I have also conducted a mini research to know the diversity of bacteria (gram positive and negative) in Air Embung UNNES (UNNES Water Reservoir).

In order to gain more knowledge about nanotechnology particularly on how to characterize it, on June 24-28th 2019, I have attended training on several instruments such as FTIR Perkin Elmer Spectrum 100, GCMS-QP2010SE, Spectrophotometer Fluorescence Tech Fluorostore Omega BMG Lab, HPLC Perkin Elmer Altus A-10, AAS Perkin Elmer Analysie-400, PSA Horiba Scientific nano partica SZ-100, and SAA-BET Quantachrome Nova 1200e. Throughout 2020, I have also tried several times to participate in overseas research internship concerning on nanomaterial science. Actually, I was accepted by one of the universities in R.O.C (Taiwan) to participate in a research internship program this year. However, due to Coronavirus pandemic, the program was cancelled.

From September to November 2019, I have also participated in an industrial research internship as a Wastewater Treatment Lab Technician at a local company. In this research, I focused on the field of aerobic digestion by microorganisms. During my internship period, I have trained in Awareness of ISO 14001; 2015 Version.”

Reason for Study in Korea

Jika kalian mengerti artinya, mungkin sudah langsung tahu maksudnya. Tulislah alasan mengapa kalian memilih Korea Selatan sebagai tempat kalian menimba ilmu. Kalimat yang aku tulis dulu seperti ini.

“South Korea has carefully selected as a leading country in the fields of science and technology. Enrolling to study in South Korean university not only will ensure that I get the very best education this country has to offer, but also will open up a wide range of employment opportunities for me. Graduates from the country’s universities are highly sought-after by institutions in Indonesia. In addition, learning South Korean language and culture directly is something that has great potential. Due to the increasingly close bilateral relations beetween Indonesia and South Korea, the opportunity to develop a cooperation with Korean companies is now growing.

GIST is a Korean prestigious research-oriented institute that providing full financial scholarship opportunities, accomodation, and research funds to me as an international student. I believe the institute will support and foster me with advanced leadership skills and will educate me for highly competent environmental scientists. Environmental Engineering of GIST has prestigious professors and providing a wide variety of fields necessary for the specialization and development of my research career. It is thus no wonder that they excelled in producing publications. I was amazed by their research areas with highly science-oriented and engineering based where I as a prospective student also have flexibility in conducting research and collaboration. Besides that, I have learned that Professor Hor-Gil Hur’s Lab and Professor Heechul Choi’s Lab has same research area with me. The labs are also provided by high tech instruments and suitable work environment that can support my research.

Key Achievements

Untuk bagian ini, kalian boleh menjelaskan buku yang pernah kalian tulis, skripsi atau penelitian yang pernah kalian lakukan, laporan yang pernah kalian buat, patents, R&D, beasiswa, dan kejuaraan yang pernah kalian raih. Pada saat itu Saya menulis bagian ini dengan kalimat berikut.

“I have some research experiences during my undergraduate study. In 2017, I did two mini research. First, I conducted a research entitled “Determination of Fe Levels in Well Water Using Spectrophotometer’. Second, I conducted a research entitled “Gram Positive and Negative Bacteria in Air Embung UNNES (UNNES Water Reservoir). In 2019, I was involved in my supervisor’s research team determinating of total phenolic and flavonoid content, and antioxidant activity of Gracinia mangostana. In 2020, I conducted my thesis research to get a BS degree in Chemistry.

My thesis research entitled “The Effect of Chemical Oxygen Demand (COD) and Dissolved Oxygen (DO) Concentrations to the Performances of Activated Sludge Bacteria of Resin Industrial Wastewater Treatment”. This study set different COD and DO levels, detected the pollutants removal, growth and consumtion rate, and resistance performance of bacteria. Results showed that COD and DO significantly influenced the performances of bacteria wastewater treatment process.

 I am an awardee of Bidikmisi Scholarship. The scholarship is provided by Indonesian Ministry of Research, Technology, and Higher Education for students with outstanding academic achievements but in reduced economic conditions. During my scholarship period, I get monthly stipend and my tuition fee is waived by the Universitas Negeri Semarang.”

Goal of Study and Study Plan

Nah, di bagian ini, kalian harus menulis rencana belajar yang bisa saja menyatakan proposal penelitian yang akan kalian kerjakan ketika belajar di GIST. Kalian sangat disarankan untuk mengunjungi situs website departemen yang akan kalian daftar untuk mempelajari lebih dalam tentang para profesor dan bidang-bidang penelitian mereka. Bagi kalian yang memiliki keinginan kuat di bidang yang spesifik, diharapkan untuk mengontak profesor dan lakukanlah diskusi proyek penelitian dengan mereka sebelum akhirnya kalian memutuskan untuk mendaftar. Berikut adalah contohnya.

“Goal of Study

First, my goal is to gain knowledge and experience professionally in my field in order to prepare myself to become highly competent environmental scientists with advanced leadership skills, so that I am able to face future career challenges. Second, my goal of study is to get 5-level of TOPIK after I finished my master studies.

Detailed Study Plan

I will pursue my master degree in School of Earth Science and Environmental Engineering. The normal length of master study is about 24 months. Throughout these 2 years, the study and research will be focused on the optimization process of producing nanoparticles using wastewater treatment bacteria with well characteristics including desired morphologies and controlled sizes, fast, and clean.

In order to gain Korean language proficiency, I will apply the “learning by doing” technique during my studies. My strategies are listening to them talk, interacting actively with Korean people, listening Korean songs, also practicing with my Korean friends.

Detailed time arrangement are below:

1st Semester of 2021

I would like to spend my first semester to study at least 9 credits of core courses. The courses are molecular biotechnology, aquatic chemistry, environmental biochemistry, and environment toxicology course. I will attend seminar related to my field and also plan to join Professor Hor-Gil Hur’s Lab or Professor Heechul Choi’s Lab to conduct my research. I will attend in all their discussion as well.

2nd Semester of 2021

I would like to spend my second semester to study at least 9 credits of core and elective course. The courses are biological monitoring, biological wastewater treatment, trace metal chemistry, and special topics in environmental engineering. In this semester, I will conduct some preliminary research.

1st Semester of 2022

I am focusing to study at least 9 credits of elective course. The courses are environmental microbial ecology, environmental nanotechnology, and instrumental analysis on environmental pollutants. In this semester, I will finish my master thesis proposal under the instruction of my supervisor. The proposal is related to my preliminary research. 

2nd Semester of 2022

I am conducting seminar in environmental engineering in this semester. Then, I am joining research group and starting to conduct my research. In this last semester, I will finish my master research and focus on the degree defense of mine. I will also publish my research papers at international academic journal in this period.”

Action Plan After Study

Pada bagian ini, kalian bisa menuliskan rencana-rencana yang akan kalian lakukan ketika dinyatakan telah lulus dari GIST. Ungkapkan secara spesifik dan hindari menuliskan hal-hal yang bersifat umum. Contoh yang pernah Saya tulis adalah.

“After I am finishing my master program, I will divide my own future plans into three periods. Detailed time arrangement are as follows:

5-years future plan

I will work for 5 years in National Institute for Nanomaterials Technology (NINT) or the other Korean Research Institutes that relevant to my field. Because I plan to scale up laboratory process of bio-synthesized nanomaterials to industrial scale in the future, I need to study the optimization of reaction conditions more professionally in this period.

10-years future plan

I will go back to Indonesia and work at wastewater treatment laboratory of Eternal Buana Chemical Industries Company. In this period, I will apply the skills that I have acquired during my studies and career in South Korea. In order to develope my research career, I will also continue to carry out a series of follow-up experiments.

15-years future plan

I will scale up the laboratory process of biosynthesis nanomaterials to industrial scale. In starting this project, of course, it will not be separated from the role and cooperation with South Korea as one of the leading countries in nanotechnology. With this collaboration, both Indonesia and South Korea will get high economic opportunities. In addition, both countries will have new alternative and competitive methods for industrial synthesis of nanomaterials.

Major drawbacks associated with the biosynthesis of nanoparticles using bacteria are tedious purification steps and poor understanding of the mechanisms. The important challenges frequently encountered in the biosynthesis of nanoparticles are to control the shape and size. It seems that some technical challenges must be overcome before I am starting this project. Therefore, I will maximize my study and career in the previous 10 years.”

Self Introduction

Tujuan kalian menulis di bagian ini adalah untuk memberikan informasi tambahan dari diri kalian yang tidak tertulis atau tersampaikan dalam form aplikasi. Sangat disarankan sekali jika kalian mengambil kesempatan untuk mendeskripsikan ketertarikan kalian, kegiatan organisasi, dan lain-lain. Ceritakan secara singkat proses tumbuh, lingkungan sosial dan rumah, pandangan hidup, latar belakang pendidikan, harapan dan cita-cita kalian. Saya dulu menuliskan kalimat berikut.

”I was born in Purbalingga, Indonesia. I am 22 years old and I am a final year undergraduate student of Chemistry Study Program in Universitas Negeri Semarang. During my bachelor study, I have completed 65 courses toward BS degree in Chemistry. I also get a 4-years full scholarship that provided by Indonesian Ministry of Research, Technology, and Higher Education. Currently, I am doing my final year project and expecting to graduate on 25th November by this year.

Outside of the classroom, I have experienced in several organizations such as the Executive Council of Students as a Head of Internal Affairs Division, the Study Orientation and Campus Introduction Committee as a Head of Equipment and Logistic Division, and as a Chief of Student Association for Environmental and Adventure Activity. I also have participated as a leader of the 45-Days Community Service Program in one of the remote villages in Indonesia. The organizational skills that I have acquired from these experiences have given me a great deal of self motivation. I believe these skills will provide myself to perform well in both adaptation and study process.

I really like adventure activities, especially to the eastern part of Indonesia where I can meet many of tribes there. I have climbed 8 highest mountains in my province, visited at least 30 cities in Indonesia, also had the opportunity to learn at least 5 regional languages. Through adventure, I can find many places with new sides that I can find out. Besides that, I also understand how to build relationships with new people, get to know their special food, even learn about their language and culture.

From childhood until I was 18 years old, I grew up in a farming environment. Both my father and mother are farmer. Most of the foods that I eat are vegetables and fruits that we grow by ourselves. We always try to avoid fast foods. It is thus no wonder that I grew up in a good health. When I was in college, I started living in a big city and surrounded by people with different ethnicities, cultures, religions and languages from all over Indonesia. Such situations have made me accustomed to a culture of tolerance.

In my life, I always remember Robert Warren’s quotes that “Good things are coming down the road, just don’t stop walking”. Whatever difficulties that come to our way will definitely be followed by positive things afterwards. We just neet to hold on, walk, and try. I realized that if one day I live in a new places, I will face several difficulties, including “the culture shock” and also the language barrier. However, I believe that the difficulties that I face will be a plus value for me when I return.

 Everyone has their own hopes and wishes, me is no exception. I expect the best things to come for myself and those closest to me. Some might be big and long-term and may seen impossible, while others might be smaller and possible sooner. However, there are two things that I really look forward. First, I hope to learn somethings new each day that helps me grow into better man and can be more helpful to society. Second, I hope that both my immediate and future plans will be achieved and through achieving these plans I make a real contribution to science.”


Sebagai catatan penting, setelah kalian membuat atau menulis study plan atau jawaban dari pertanyaan yang ada, cobalah baca kembali dua atau tiga kali. Perbaiki kata yang typo, grammar yang salah, atau kalimat yang tidak efektif. Sebab, kesalahan seperti itu bisa membuat kalian akan gagal dalam seleksi. Minta tolonglah kepada teman atau mereka yang ahli berbahasa Inggris, tampunglah saran yang mereka berikan. Semoga bermanfaat!



MEPET! Inilah Persiapan Aku dan Panitia Menyelenggarakan Event Angkatan

                            


Credit by me

Jadi foto di atas itu aku, sedang mirror selfie ala-ala (jiah!!!) di sebuah toilet wisata Museum Angkut, Malang pada 2018 lalu sob. Menurutku itu foto kurang ada seninya, jujur ya... aku baru satu bulan pegang kamera 😜. Tapi sebenarnya, maksud aku seperti itu bukannya mau “ngalay” sob, seolah sebagai sebuah bentuk bangga pada diri sendiri sebab sudah berusaha keras menjadi seorang backman sebuah kegiatan yang cukup besar sob kala itu. Tentunya aku tidak sendirian ya, ada juga 11 orang lain yang juga berjasa besar terhadap kegiatan tersebut.

Tahun 2018 tepatnya bulan April, angkatanku mendapatkan surat edaran pemberitahuan dari kepala jurusan kami yang isinya kurang lebih menginstruksikan mahasiswa semester 5 agar segera merancang kegiatan kunjungan industri sob, maklum saja sebab di kurikulum kami, mata kuliah kunjungan industri tidak ada sehingga mau tidak mau mahasiswa yang harus menginisiasi sendiri. Dengan alasan klasik yang pada saat itu tugas kuliah kami sedang cair-cairnya nya loh sob, sampai bulan April akan berakhir kami masih menghiraukan surat edaran tersebut 😜. Hingga akhirnya pada pertengahan bulan Mei, kami yang terdiri dari kurang lebih 80 mahasiswa mengagendakan kumpul angkatan. Di agenda kumpul perdana tersebut, seperti biasa kami saling berdebat satu sama lain sebab tujuan agenda tersebut adalah memilih lokasi kegiatan dan panitia yang akan bertanggungjawab penuh selama kegiatan. Pada akhirnya didapatlah beberapa kesepakatan diantaranya memilih 12 orang panitia dan lokasi kegiatan. Tidak ada angin tidak ada hujan, dari sekian banyaknya manusia di ruangan itu, namaku yang mereka sebut hingga akhirnya resmi terpilih sebagai KETUA KEGIATAN sob πŸ§›, beruntungnya mereka sebab aku bukan tipe mahasiswa yang suka berbasa-basi dan kebetulan sedang senang-senangnya mencari peluang dari sebuah kesempatan jadi akhirnya aku terima langsung deh sob. Kesepakatan kedua ternyata memilih Kota Malang sebagai destinasi kegiatan kita nantinya. Jujur saja aku menjadi semakin terpacu semangat atas pilihan mereka itu sob, sebab selain lebih cocok di kantong, Kota Malang juga merupakan salah satu tujuan liburanku... mantap jiwa!!!
                       

Bahagia karena dapat sertifikat yang ada tanda tanganku sendiri sob hehe

Tidak mau menyiakan waktu yang ada, aku dan tim yang berjumlah 12 orang tancap gas menyusun struktur kepanitian karena memang dulu, baru dipilih ketua juga 11 mahasiswa lainnya yang akan membantu. Aku didampingi sekretaris cewe dan lumayan manis lah 😝, Ina namanya (Terima kasih Ina karena selalu buat aku semangat... Hehe becanda 😜) dan tentunya juga dibantu oleh bendahara serta beberapa divisi seperti acara, humas, perlengkapan, konsumsi, dokumentasi, dan kesehatan. Di bulan Mei kami hampir setiap satu minggu sekali melaksanakan rapat, belum terlalu sering memang sob sebab aku dan mereka juga ada tanggungjawab utama sebagai mahasiswa yaitu TUGAS KULIAH!!! Di sisi lain aku juga masih ada tanggungjawab di organisasiku yang lain, tapi beruntungnya tidak sepadat yang ku bayangkan.

Bulan Mei, kami memutuskan untuk mengadakan open tender dan telah disepakati bahwa kegiatan ini akan diadakan pada 23 - 26 Juli 2018 (so excited! 🀸). Pada intinya dalam open tender, kami hanya memilih satu biro perjalanan yang akan membantu dan memfasilitasi kami selama kegiatan berlangsung. Pada saat itu, ada sekitar 10 biro perjalanan yang mendaftar tender dan 6 diantaranya kami loloskan proses administrasinya. Kami memiliki 6 proposal yang akan dipresentasikan oleh masing-masing biro pada 3 Juni mendatang. Di saat presentasi kami harus benar-benar jeli sob, terutama menilai perihal penawaran yang bisa mereka berikan. Dari 6 biro tersebut ada 3 yang menurut kami paling sesuai dari segi biaya, fasilitas, feedback, dan track recordnya. Sehari mereka presentasi, kami masih harus menyeleksi  3 biro tersebut hingga di hari yang sama kami sepakat memakai jasa dari Lentera Wisata (berharap dapat endorsment πŸ‘€). Akhirnya satu tahap telah terselesaikan, fokus ke tahap yang lain!


Design by ekvan

Di tengah riwehnya ini itu, kami bersyukur masih bisa mengadakan rapat sob . Kali ini kami rapat dengan kelas ekslusif dari yang biasanya hanya di ruang kelas atau bahkan gazebo yang bila lama-lama, kami tidak kuat dengan gatalnya gigitan nyamuk. Seolah sebagai bentuk terimakasih sebab mereka yang akhirnya kami pilih, biro ternyata memfasilitasi rapat kami di sebuah kafe yang kami boleh pesan minum apapun jenisnya (cuma minum ya sob 😜). Kami bertukar pikiran, mengutarakan rencana panitia ke depan kepada  mereka (biro) dan mereka juga sangat impactful terhadap rencana kami. Di situ kami hanya punya waktu kurang lebih 48 hari sebelum kegiatan dimulai. Waktu tersebut jelas jauh dari kata ideal untuk mengajukan proposal kunjungan ke banyak perusahaan sebab umumnya adalah 3 bulan sebelum pelaksanaan. Beruntungnya kami bekerja sama dengan biro yang sudah berpengalaman sehingga sedikit banyak network perusahaan yang mereka miliki. Tetapi sayangnya, perusahaan yang mereka tawarkan tidak ada satupun yang panitia minati dan bahkan mahasiswa lainnya pun tidak ada yang memilihnya. Dari sini kami benar-benar harus memulai dari nol dan mencoba riset dari internet (sebagai jalan ninja kami) mengenai daftar perusahaan di lokasi kegiatan yang tentunya sesuai dengan minat dan bidang kami yaitu KIMIA. Panitia dan biro akhirnya mengumpulkan 8 daftar  perusahaan tujuan dan tidak lama setelahnya, kami mencoba jalur kirim-kirim surat dan proposal kunjungan melalui kontak yang kami temukan di website mereka. Alhamdulillah!!! 2 di antaranya membalas email kami dan bersedia menerima kunjungan kami (meskipun masih belum percaya email kami dibalas dengan seantusias itu). Namun... perusahaan tersebut bersedia menerima kami dengan jadwal yang sudah mereka atur dan kebetulan sekali keduanya menawarkan pada hari dan jam yang sama. Baiklah! Wahai kawan, mari bergegas rapat! Akhirnya... panitia dan mahasiswa sepakat memilih PT Yakult Indonesia Persada sebagai tempat kunjungan kedua kami di hari pertama, Selasa 24 Juli pukul 13.00 WIB. Sementara untuk kunjungan yang pertama, kami benar-benar masih BLANK! Padahal, hari sudah menunjukkan tanggal 12 Juni 2018 yang artinya hanya tersisa waktu sekitar 40 hari lagi!!! Tidak ada pilihan lain selain mempertimbangkan kembali tawaran awal. Dari daftar yang ada, satu instansi bernama UPT Materia Medica Batu yang kami rasa cukup sesuai. Namun, untuk bisa meminta izin dan tentunya observasi kondisi instansi, panitia (perwakilan tentunya) dan biro harus melakukan survei langsung ke lokasi sehingga pada saat itu aku dan dua orang biro melakukan perjalanan ke lokasi pada malam hari, tanggal 16 Juni. Kami berada di Kota Malang selama satu hari dan hari Minggu malam kami melakukan perjalanan pulang ke Semarang. Hasil survei kami cukup memuaskan sebab kami berhasil melakukan kontak dengan pihak instansi dan pihaknya bersedia menerima kunjungan kami, tanggal 24 Juli pukul 08.00 WIB. Akhirnya!!! Tetapi sebetulnya, ada satu hal yang masih menjadi beban kami sebagai panitia, instansi mengharuskan setiap peserta membayar Rp. 30.000, dan yang jelas kami harus meminta pertimbangan mahasiswa yang lain. Angka yang kecil kan sob? Tidak bagi semua orang! Dan kami panitia akan terus berusaha menekan biaya iuran agar bisa serendah mungkin. Pada saat itu, kami memiliki dua kota kursi off 50% dari biro perjalanan yang memang diperuntukan bagi mahasiswa yang  mengalami kesulitan membayar biaya kegiatan. Tiba-tiba, satu hal yang benar-benar membuat aku kagum, sebab ada satu mahasiswa yang berniat mengiklaskan kursi off 50% tersebut (Semoga segala impianmu tercapai ya Mira... πŸ™Œ) dan pada akhirnya anggaran tersebut panitia gunakan untuk menutup biaya. Alhamdulillah kami diberi kemudahan!!!

Tugas panitia selanjutnya adalah mencari dosen yang akan mendampingi kami semua selama kegiatan. Tidak merasa ada hambatan untuk melakukan tugas ini, sebab ada banyak dosen yang berminat mendampingi kami kala itu. Tentu saja dalam memilih dosen, kami dasarkan atas masukan dari ketua jurusan kami saat itu, Bu Nanik. Akhirnya kami didampingi oleh 4 dosen pendamping  yang terdiri dari Pak Willy, Bu Mursiti, Bu Srika, dan Pak Dante (dari kiri ke kanan)
                          

Credit by me

Hal yang sebenarnya paling dinantikan adalah ketika aku dan panitia membahas destinasi wisata di Kota Malang πŸ‘. Tidak lengkap rasanya kalau kami tidak melibatkan biro sebagai ahlinya ahli dalam urusan kewisataan ini ya sob! Ya akhirnya kami semalaman hanya membahas wisata, wisata, dan wisata hehe, sebab memang seluruh kegiatan hari ketiga kami desain untuk berwisata. Kami sudah memiliki list yang nantinya akan kami vote bersama dengan mahasiswa lain. Akhirnya inilah destinasi wisata kami di Kota Malang... (Dari kiri ke kanan Wisata Petik Apel, Jatim Park II, dan Museum Angkut)
 


Wisata petik apel 


Jatim Park II

Lanjut ya sob... Jadi berhubung waktu kegiatan sudah semakin dekat, kami sudah sedikit lega dan kami semakin intensif melakukan rapat. Sebetulnya masih banyak loh sob persiapan yang belum kita lakukan, salah satunya yang kami belum melakukan negosiasi biaya (nego kami sampai dua kali ya sob haha), belum tanda tangan kontrak, dan juga belum mengangsur biaya kegiatan. Berhubung pihak manajemen biro yang teramat santuy dengan kami, jadi kami bisa tanda tangan kontrak dan cicilan 60% mulai 2 minggu sebelum acara. Sisa-sisa hari di bulan Juni, kami maksimalkan dengan koordinasi terus menerus dengan pihak biro, mengenai rundown dan TOR kegiatan, perlengkapan, dan konsumsi.

Uang kami akhirnya sudah terkumpul 100%, kami lalu tanda tangan kontrak, melakukan cicilan, daaan.... tepat pada tanggal 17 Juli kami mengadakan Technical Meeting dengan mahasiswa lain. Inti dari TM itu adalah saat kami menginformasikan rundown acara, perlengkapan yang wajib peserta bawa, dresscode yang harus peserta kenakan, dan lain-lain yang telah panitia persiapan sebelumnya. Seolah bersahabat dengan angan kami, waktu begitu cepat berlalu sob dan tanggal sudah menunjukkan 23 juli, tepat kami semua melakukan perjalanan hari pertama pada malam hari.

Seperti itulah cerita singkat aku dan tim menyiapkan kegiatan KKL, mungkin di postingan lain aku akan cerita pengalaman bagaimana serunya kegiatan 4 hari kami di Kota Malang ya sob...

OH IYA JANGAN LUPA LIHAT VIDEO KEGIATAN KAMI yaa di bawah ini


Bonus sob... 


Kunjungan hari kedua di UPT Materia Medica Batu


Kunjungan hari kedua di PT Yakult Indonesia Persada


Pak Willy yang ternyata menjadi dosen pembimbing tugas akhirku sob haha...