Part II
Kembali ku fokuskan kesibukan penelitian di laboratorium yang memang sudah hampir selesai itu. Hari - hari itu ku lewati seperti sedia kala, namun dengan perasaan yang berbeda. Aku merasa lebih termotivasi dengan perasaan semangat yang lebih besar sebab bisa jadi salah satu mimpiku akan datang dengan segera.
Suatu ketika, dunia maya mulai dihebohkan dengan pemberitaan kasus wabah COVID-19 pertama di Indonesia yang tak lama kemudian, kejadian tersebut membuat semua kampus menutup kegiatan pembelajaran termasuk laboratorium tempat ku bekerja pun melakukan hal yang sama. Namun bersyukurnya, tanggungjawab ku di laboratorium tepat telah usai! Dengan begitu, kini diri ku punya lebih banyak waktu untuk fokus memperbaiki proposal penelitian skripsi yang sudah satu bulan lebih tak ku sentuh itu 😬. Apalagi, kampus sudah memutuskan untuk meliburkan kegiatan pembelajaran yang entah akan sampai kapan 👀. Sebenarnya, di luar rasa syukur ku kala itu, sedikit banyak ku pendam rasa khawatir sebab kondisi pandemi seperti ini tentu saja dapat menghambat progres skripsi dan pada akhirnya kesempatan untuk lulus tepat waktu pun akan semakin kecil.
Pada pertengahan Maret, kini pemberitaan Covid-19 semakin meluas sebab kenaikan kasus infeksi yang memang semakin massive. Apalagi, kota yang sedang ku huni ini tak luput pula dari kepungan virus yang menyebalkan ini. Yang jelas, keadaan semakin terasa berat pun timbul rasa takut yang selalu menghantui diriku kala itu. Namun, virus yang “katanya” sangat ganas itu, rupanya tidak membuat sebagian orang merasakan ketakutan seperti yang ku rasakan. Benar saja, hari demi hari angka infeksi semakin naik dan naik! Kebijakan demi kebijakan terus dibuat oleh pemerintah, mulai dari melakukan lockdown, karantina mandiri, hingga melarang bepergian ke luar kota. Hanya saja, ada begitu banyak pertimbangan mengapa aku harus meninggalkan kota ini, hingga di akhir bulan, aku memutuskan untuk pulang ke rumah di Purbalingga.
Di tengah hingar bingar pemberitaan Covid-19, di bulan yang sama pun aku harus memakan pil pahit kehidupan. Bagaimana tidak? Semua usaha yang sudah ku perjuangkan demi bisa ke abroad sebelumnya, berakhir dengan datangnya kabar pembatalan. Meskipun diriku sangat memaklumi akan keadaan ini, tetap saja ada rasa kecewa yang bersemayam di hati. Sebenarnya, aku sudah memprediksi akan datangnya pemberitahuan ini sebelumnya, hanya saja aku merasa bahwa event tersebut hanya akan ditunda dan kembali digelar tidak lama setelah pandemi usai. Namun, perasaanku salah dan ternyata even tersebut justru dibatalkan. Ya... di kondisi yang cukup darurat seperti ini tentu saja penyelenggara tidak akan mengambil resiko dengan mendatangkan mahasiswa asing. Jangankan mendatangkan, akses masuk dan keluar negara tersebut pun sudah pasti dihentikan. Terlebih lagi, sebagian besar maskapai penerbangan internasional jelas sudah berhenti beroperasi walaupun sifatnya sementara.
*email pembatalan TIGP
Bersamaan dengan sedikit rasa kecewa yang ku rasakan kala itu, diriku masih menaruh rasa optimis untuk mendapatkan kesempatan terbang ke negeri impian. Aku merasa bahwa pandemi ini tidak akan berlangsung lama dan satu event lagi yang masih ku tunggu tidak akan sampai ditunda apalagi dibatalkan. GIP adalah harapan terakhirku saat itu, diriku sangat berharap lebih hingga setiap hari namanya selalu tidak bisa lepas dari anganku. Maret berlalu dan kini beralih ke April, bulan yang kulalui dengan penuh rasa optimis, di sisi lain juga khawatir akan merasakan kecewa kedua kalinya. Di bulan ini pun, pandemi semakin meluas sehingga rasa kekhawatiran itu justru lebih dominan. Ku mencoba menutup rasa itu dengan berusaha produktif mengerjakan skripsi, skripsi, dan skripsi. Ya... diriku memang belum memperoleh data, namun waktu yang ada tidak akan aku sia – siakan begitu saja. Aku bahkan sudah mulai menyusun pembahasan saat itu, hanya saja bentuknya masih berupa template yang bisa ku edit setelah aku memperoleh data. Aku rasa ide ini cukup kreatif sebab tidak kebanyakan orang melakukannya.
Di suatu hari, siang itu aku seperti biasa sedang bermain handphone, membaca sebuah artikel ilmiah dan secara tiba-tiba, sebuah notifikasi email muncul di layar utama. Nampak jelas pengirim email itu bertuliskan huruf Korea yang sangat ku yakini berasal dari penyelenggara program GIP. Rupanya memang benar dan secara sengaja, aku tidak langsung membuka email itu, hal pertama yang kulakukan adalah menyiapkan mental dan berdoa meminta kelapangan dada akan hasil yang akan kudapatkan nantinya. Tidak berselang lama, aku membuka email itu dengan seperti biasa membaca subject yang ada terlebih dahulu. Sebenarnya, dari subject nya saja sudah bisa aku ketahui hasilnya, di situ secara jelas tertulis "The Cancelation of 2020 Global Internship Program" yang artinya tidak lain menginformasikan kepada ku tentang pembatalan program GIP tahun ini. Seolah masih belum percaya, aku buka dan baca seluruh isi email panjang tersebut dan berharap ada hal lain yang setidaknya membuat rasa kecewaku sedikit terobati. Tidak ada rupanya 🙃 . Ya... Aku percaya, ada maksud lain dari rencana Tuhan itu, rencana yang tentu saja akan beribu kali lebih indah nantinya, aku hanya perlu bersabar menunggu kesempatan itu akan datang!
*email pembatalan GIP
Sekian. Semangat selalu untuk kita semua 🙂.